Dari Ngrambe ke Colorado Lewat Bandung – Ir. Sriwiadi Djais Hardjosoemarto

 Warning: This is a book limited to our family circle, but I still hope this review could be a tribute for my grandpa

b49ce521-876c-4e26-ad8a-185472c905f5

Review in English:

This is a special review. A tribute for my beloved autobiographer, my grandpa, Sriwiadi.

Early this morning, I received a phone call from 3607 miles away telling me my grandfather has passed away. He was sick, and we have seen this coming. All my family have been gathering and stand by his side literally non-stop. He had time to say proper goodbyes to all of us, even me, via video chat. However, it does ache me that I cannot be with them on this sad, sad, day. So let me do what I can do.

3-4 years ago, my grandpa wrote this book and packaged it to his family. He made a sufficient amount of copies for his circle. You may not able to find this book in the market, so let me tell you about it.

This is the story of his life. He was born in 1940, which means he experienced the time before Indonesia’s independence. He was born in Ngrambe, a small city in the Eastern Java. Even I have never been there. For the sake of better education, he separated from his family so early in the childhood. They were poor, but my grandpa was tough and willing to work hard for his future. 

Long story short, he made it into the best technology institute in Indonesia at that time, despite originally, his dream was to be a teacher. He was enrolled in Geology department, and even though graduating was super difficult at the time, he made it. During college, he met my grandma, and they got married. Life after graduating wasn’t easy. Indonesia has just declared its independence, still a baby country. People were poor and suffered, though the country’s ambition to grow was burning. My grandpa worked for the government, Ministry of Public Works and Public Housing to be exact. However, the pay was very low, and he can barely provide for the family (at that time, it was my grandma and my mother).

 In the book, he told us heart-wrenching stories of how they divide an apple to three for dinner, how my grandma only has one skirt and how beautiful he thinks she is in it. He also told us that my mother had only been given porridge, because my grandma had to save rice, and she often ate the crumbs of my mother’s foods. He also told the story on how he finally discovered the name and treatment of his rare illness, that even to this day not all doctors can quickly identify it.

He earned his success after coming home from a year training in the US. He was a good engineer, and quickly contributed to a lot of projects. From there, he built his businesses and ensure the welfare of his family. He built the house we all had lived in, he let my grandma built her own boutique, and gave proper education for his children (4 of them).

There were a lot of simple, yet real story being told in his book, and even though it may not be written by a world-class writer, it is his legacy that I will always cherish. He is the first person that introduced me to Harry Potter (which is my first love, haha), the first person to recognize my rare pancreas disorder, and he teased me so much about how I can’t spell ‘R’ properly when I was a child, which motivates me to fix it (which I did!).

You will be missed. Rest in Peace, Aki.

IMG_3574

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Resensi ini kudedikasikan untuk penulis autobiografi kesayanganku, Aki Sriwiadi.

Tengah malam, ada telepon dari Bandung, berisi kabar bahwa kakek sudah tiada.

Tahun ini Aki (panggilan kami untuk kakek) didiagnosa sakit yang cukup berat, memberikan kami waktu yang cukup untuk mempersiapkan hal ini. Seminggu ini, seluruh keluarga berkumpul dan menemani beliau hampir 24 jam non-stop. 2 hari lalu pun aki sudah berpamitan ke semua, termasuk aku, walaupun lewat video call. Sebulan yang lalu, aku pulang ke Indonesia untuk bertemu beliau, dengan firasat membayang bahwa mungkin kali itu akan jadi yang terakhir. Bagaimana pun juga, ternyata masih tetap terasa sedih untuk tidak berada bersama keluarga ketika hal ini terjadi. Jadi, izinkan saya melakukan apa yang saya bisa.

Belum lama ini, Aki menuliskan autobiografinya dan menerbitkannya kecil-kecilan. Beliau mencetak bukunya dan membagikannya pada keluarga. Oleh karena itu, kamu mungkin tidak akan bisa menemukan buku ini di pasaran, jadi izinkan saya bercerita sedikit tentang buku ini.

Buku ini bercerita tentang hidupnya. Aki lahir tahun 1940, beberapa tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di Ngrambe, kota kecil di daerah Jawa Timur. Namun di usia belia, beliau segera berpisah dari keluarganya demi menempuh pendidikan yang lebih baik di kota besar. Walaupun keluarganya adalah keluarga kurang mampu, Aki adalah sosok yang giat dan mau bekerja keras untuk masa depannya.

Panjang cerita, walaupun beliau bermimpi untuk menjadi seorang guru, beliau tidak diterima di akademi dan malah diterima di Institut Teknologi Bandung. Aki mengambil jurusan geologi dan menekuni bidangnya selama kuliah, masa di mana ia bertemu Nini dan menikah dengannya. Namun setelah lulus, hidup tidak menjadi lebih mudah. Pada jaman itu, kondisi masyarakat Indonesia tidak bisa dikatakan makmur. Masyarakat miskin dan menderita. Walaupun Aki bekerja di Kementrian PU saat itu, gajinya sangat kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Dalam bukunya, aki banyak bercerita tentang pahit manis hidupnya saat itu. Beliau bercerita tentang membagi 3 sebuah apel untuk makan malam dengan Nini dan anaknya (ibuku), juga bercerita tentang rok Nini satu-satunya yang selalu dipakai saat acara besar, dan betapa cantiknya Nini menurut Aki dengan rok itu. Ibuku saat itu hanya diberi makan bubur karena Nini harus menghemat beras, dan Nini pun seringkali hanya makan sisa-sisa makanan dari Aki dan anaknya. Ia juga bercerita tentang penyakitnya yang langka yang tak juga kunjung teridentifikasi dokter (yang bahkan sampai sekarang tak semua dokter dapat segera mengidentifikasinya).

Setelah kembali dari pelatihan di Amerika, Aki menjadi lebih handal dan menangani lebih banyak proyek. Dari sana lah beliau membangun bisnisnya dan memberi kehidupan yang layak untuk keluarganya. Ia membangun rumah yang masih kami tinggali, memberi modal pada Nini untuk membuat butiknya sendiri, dan menyekolahkan 4 anak-anaknya ke sekolah yang bagus.

Mungkin cerita ini hanyalah cerita nyata sederhana yang bukan ditulis oleh penulis kelas dunia, namun ini adalah warisan beliau yang akan kami kenang dan jaga. Aki-lah yang pertama mengenalkanku pada Harry Potter, mengenali gejala penyakitku, dan menggodaku karena cadel sehingga aku termotivasi untuk memperbaikinya.

Aki, semoga Tuhan menyiapkan tempat yang baik untukmu. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s