Sepotong Senja untuk Pacarku – Seno Gumira Ajidarma

Rating: 4.5 out of 5

“Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja – dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan”

*the review in English is written after the one in Indonesian

Sepotong Senja untuk Pacarku (2)Resensi dalam Bahasa Indonesia: 

Senja. Berapa banyak dari kita yang mencintai gambaran sebuah senja?

Tapi senja tidak pernah bisa dibawa pulang….bukan?

Salah. Seno Gumira Ajidarma membuktikan bahwa senja bisa dibawa, dikemas, diulang sebanyak yang kita mau. Dalam bukunya, Sepotong Senja untuk Pacarku, ia mengemas senja dengan sempurna, mempresentasikan dan menghadiahkan senja yang mungkin telah ia saksikan pada para pembacanya, melalui kata-kata yang indah melampaui daya pikir.

Buku ini sebegitu sempurnanya bagiku. Baik cerita, bahasa, cover, bahkan pengemasan bukunya begitu tepat dan cocok, sehingga rasanya seperti benar-benar mempunyai ‘senja’. Buku ini dikemas dalam sebuah amplop, tepat ketika cerita pertama mengisahkan tentang seorang lelaki yang memotong senja dan mengirimkannya pada sang pacar. Ia pun menyelipkan sepucuk surat dalam bukunya, yang membuat buku ini terasa semakin nyata.

Sedangkan untuk bahasa sendiri, Seno Gumira telah sukses membangun dunia yang ia mau dalam imajinasi pembaca dengan kata-katanya. Seperti musik, kata-kata mengalir dengan simfoni yang sangat cocok dalam bukunya, menyajikan gambaran senja yang sang pengarang inginkan dalam imajinasi pembaca, sama, atau bahkan lebih indah. Saat membaca buku ini, rasanya ada sisi dalam diri yang begitu puitis dan romantis terbangunkan, membuat kita ingin membaca pelan, turut “berjalan di pantai dengan kaki telanjang membentuk jejak yang panjang di atas pasir basah yang mengertapkan cahaya keemas-emasan.”

Berikut sepotong tulisan tentang senja milik Seno Gumira Ajidarma:

“Alina tercinta, bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja – dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apaah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di kejauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu-persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamamu merski aku tahu semua itu akan teteap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

 Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini. Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa.”

Sepotong Senja untuk Pacarku

Review in English: 

Sunset. How many of us love a thing we call Sunset?

 But we can’t take Sunset away, no?

Wrong. Seno Gumira Ajidarma proves that the whole scenery of sunset could be cut, packed, and repeated as much and whenever we want. In his book, Sepotong Senja untuk Pacarku (sorry, I don’t think they have translation in English for this book. But if I have to, I thing in English it would be something like ‘A Piece of Sunset for My Girl’), he perfectly presents the whole scenery of sunset, and gave it to us, the readers, with such beauty.

 It is a perfect book, at least to me. Whether it was the story, the style, the cover, even the packaging is so fit to the whole theme, you feel like you really do own a sunset in your shelf. This book’s packaging is an envelope, just as its first story, telling about a man who cut the sunset scenery and send it to his girl. They also slipped a piece of letter in the book, that makes this book feels real.

 As for the way he writes, Seno Gumira had successfully put the sunset into the minds of his readers using only his words. Just like a music, his words flow beautifully and in such harmony, fitting to each other, presenting the exact picture of the sunset in his mind to our imagination, or even more mesmerizing than his. As I read it, it feels like there is this poetic, romantic, side of me awoken, makes me wanted to read it slower, and “walk barefoot on that sparkling seashore, leaving lingering footsteps on those wet sands”.

 I really hope you can read it just as I am, but since the stories are all in Indonesian language, if I translate it I don’t think I can copy the beauty of his writings. But I do hope you would be able to read it someday, dear English-speaking readers!

 

 

Advertisements

Aroma Karsa – Dewi Lestari (Dee)

Rating: 4.0 out of 5

“Asmara. Tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya.”

Aroma Karsa (3)

Review in English:

Dewi Lestari is back with another groundbreaking piece.

I was so happy when I heard of this book. The last book of Dee that I read was not as good as I hoped, thus I was so afraid of reading this one.

But she is officially back!

This one is definitely mind-blowing. It has all the elements that we always love from Dee’s books. The details, the unique topic, the plot-twist, and one of my favorite highlight, the traditional background story. I can feel Indonesia from her story, the values, the legend that she put, makes me miss my country even more. Her writing style mesmerizing as always, and it makes me fall in love with it all over again.

If you know or have read Perfume, I really recommend you to read this one. The senses that Dee portrays really detail and taking your imagination up high, allowing you to wonder and imagine how does it really is in the story. However, I do feel Dee has some problem in maintaining a long story, I can find some part that is a bit shaky. Just a tiny bit.

The brilliant part is, though, how she awoken the ancient story of Indonesia, twist it and bring it to modern-fantasy kind of thing. It’s indeed brilliant. I am not sure if they had translated the book to English though, since it’s pretty new. Anyway, here’s a sneak peek!

After finding an old papyrus, Raras Prayagung gained a new knowledge about Puspa Karsa, the tale she had known, that it is a real plant hidden in a secret place. Her obsession grew, to find a magic flower whom to be said could control other people and could only be identified through smell. Then she met Jati Wesi. A man growing up at TPA Bantar Gebang, the biggest landfill in Indonesia. He has heightened sense of smell, and his favorite work is making perfumes. This particular skill catches Raras’ eyes. Not only employing him to her company, Raras also invites him in to her private life, including introducing him to her only child, Tanaya Suma, who has same ability as him. The more he got involved with this family, the more secret he finds, about him and his unknown past.

Aroma Karsa

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Setelah absen beberapa lama, Dewi Lestari kembali lagi dengan cerita yang luar biasa!

Waktu pertama mendengar tentang buku ini, aku super bahagia, tapi juga takut. Buku Dee yang terakhir tidak sebagus ekspektasiku, jadi rasanya agak deg-deg an sewaktu membaca buku yang ini.

Tapi ternyata Dee tetaplah cemerlang!

Ceritanya sangat memukau. Semua aspek yang selalu disukai pembaca dari seorang Dewi Lestari ada. Plot cerita, detail-detailnya, topik unik yang diangkat, dan tentunya aspek favoritku, cara Dee mengolah cerita tradisional Indonesia dalam novelnya. Ia mampu mempertahankan nilai dan cerita tradisional Indonesia, namun mengemasnya dengan cerdas sehingga cocok dengan perkembangan zaman. Gaya penulisannya tetap cantik seperti biasa, dan aku jatuh cinta lagi dengan ceritanya.

Ini novel pertama Indonesia yang mengangkat topik tentang indera penciuman, dan Dee menceritakannya dengan begitu detil dan menggugah, membuat pembaca dengan mudahnya mampu membayangkan bau yang dideskripsikan oleh Dee. Memang sempat sedikit terpikir dan terasa bahwa Dee terkadang ‘goyang’ untuk novel yang tebal, ada beberapa bagian yang terasa ‘gamang’, namun selalu kembali on track.

Ok, berikut sinopsisnya!

Dari sebuah lontar kuno, Raras Prayagung mengetahui bahwa Puspa Karsa yang dikenalnya sebagai dongeng, ternyata tanaman sungguhan yang tersembunyi di tempat rahasia. Obsesi Raras memburu Puspa Karsa, bunga sakti yang konon mampu mengendalikan kehendak dan cuma bisa diidentifikasi melalui aroma, mempertemukannya dengan Jati Wesi.

Jati memiliki penciuman luar biasa. Di TPA Bantar Gebang, tempatny tumbuh besar, ia dijuluki si Hidung Tikus. Dari berbagai pekerjaan yang dilakoninya untuk bertahan hidup, satu yang paling Jati banggakan, yakni meracik parfum. Kemampuan Jati memikat Raras. Bukan hanya mempekerjakan Jati di perusahaannya, Raras ikut mengundang Jati masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Bertemulah Jati dengan Tanaya Suma, anak tunggal Raras, yang memiliki kemampuan serupa denngannya. Semakin jauh Jati terlibat dengan keluarga Prayagung dan Puspa Karsa, semakin banyak misteri yang ia temukan, tentang dirinya dan masa lalu yang tak pernah ia tahu.

 

Outliers – Malcolm Gladwell

Rating: 3.2 out of 5

Who we are cannot be separated from where we’re from”

Outliers (3)

Review in English:

Have you ever heard of the 10,000 hours theory?

Well here it is, Malcolm Gladwell, the author of Outliers is the one that came up with it! This book gives a more elaborate explanation on what seems to be the reasons behind most successful people and/or enterprise in this world.

It is a common knowledge that most of the successful people in the world are outliers. They found ideas that no one can, they work harder than anyone, they do someone else don’t. But are they, really? What distinct them of the others? Why there are 2 genius in this world, one goes nowhere and the other is the owner of multinational company? What is the reason?

This book will help you to discover a new perspective of these outliers. There are a lot of surprising facts behind it, stories that often be overlooked by people, the reasons of those successful people. However, I do feel some parts are keep being repeated and the stories are more related to those who have good understanding on Western’s history. However, the author also included and had a good peripheral perspective on Asian’s culture.

Nevertheless, once I read this book, I come to a new realization on what success really is, and what are the things that made the outliers, outliers. It is not without reason, surely. This book will help you to get a clear view on life’s backstage, and maybe, it will also help you to find your own stage. Have a good read!

Outliers

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Pernah dengar tentang aturan 10,000 jam?

Malcolm Gladwell, pengarang buku Outliers, adalah orang yang memopulerkan teori 10,000 jam ini! Dalam bukunya, ia memaparkan penjelasan yang rinci tentang alasan di balik kesuksesan orang-orang paling terpandang di dunia.

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa orang-orang paling sukses di dunia adalah orang-orang unik yang bersinar di bidangnya. Mereka mempunyai ide yang berbeda dari yang lain, bekerja lebih keras dari orang lain, intinya, mereka melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain. Tapi, apa iya? Apa sih yang membuat mereka begitu berbeda? Lalu, kalau benar berbeda, mengapa ada 2 orang jenius dengan nasib yang begitu berbeda pula? Apa alasan dari hal-hal ini?

Buku ini memberikan perspektif baru mengenai orang-orang sukses. Ada banyak fakta-fakta menarik, cerita-cerita yang diabaikan, dan alasan lain dari suksesnya seseorang. Tapi, saya pribadi merasa banyak bagian dari buku ini yang diulang-ulang, dan buku ini akan lebih mudah dibaca bila Anda punya pemahaman yang baik tentang sejarah Barat. Namun, pengarang juga sebenarnya mempunyai pandangan yang cukup komprehensif mengenai budaya Asia, yang mana ia masukkan dalam bukunya.

Bagaimana pun juga, buku ini memberi aku pandangan baru tentang kesuksesan. Definisi dan faktor-faktor pendukungnya. Apa yang membuat seseorang yang berbeda menjadi unik. Tentunya semua itu bukan tanpa alasan. Kalau diibaratkan panggung, buku ini memberi akses pada-mu untuk melihat hal-hal yang terjadi di belakang panggung, dan mungkin bisa membantumu untuk menemukan panggungmu sendiri. Jadi, selamat membaca!

Dari Ngrambe ke Colorado Lewat Bandung – Ir. Sriwiadi Djais Hardjosoemarto

 Warning: This is a book limited to our family circle, but I still hope this review could be a tribute for my grandpa

b49ce521-876c-4e26-ad8a-185472c905f5

Review in English:

This is a special review. A tribute for my beloved autobiographer, my grandpa, Sriwiadi.

Early this morning, I received a phone call from 3607 miles away telling me my grandfather has passed away. He was sick, and we have seen this coming. All my family have been gathering and stand by his side literally non-stop. He had time to say proper goodbyes to all of us, even me, via video chat. However, it does ache me that I cannot be with them on this sad, sad, day. So let me do what I can do.

3-4 years ago, my grandpa wrote this book and packaged it to his family. He made a sufficient amount of copies for his circle. You may not able to find this book in the market, so let me tell you about it.

This is the story of his life. He was born in 1940, which means he experienced the time before Indonesia’s independence. He was born in Ngrambe, a small city in the Eastern Java. Even I have never been there. For the sake of better education, he separated from his family so early in the childhood. They were poor, but my grandpa was tough and willing to work hard for his future. 

Long story short, he made it into the best technology institute in Indonesia at that time, despite originally, his dream was to be a teacher. He was enrolled in Geology department, and even though graduating was super difficult at the time, he made it. During college, he met my grandma, and they got married. Life after graduating wasn’t easy. Indonesia has just declared its independence, still a baby country. People were poor and suffered, though the country’s ambition to grow was burning. My grandpa worked for the government, Ministry of Public Works and Public Housing to be exact. However, the pay was very low, and he can barely provide for the family (at that time, it was my grandma and my mother).

 In the book, he told us heart-wrenching stories of how they divide an apple to three for dinner, how my grandma only has one skirt and how beautiful he thinks she is in it. He also told us that my mother had only been given porridge, because my grandma had to save rice, and she often ate the crumbs of my mother’s foods. He also told the story on how he finally discovered the name and treatment of his rare illness, that even to this day not all doctors can quickly identify it.

He earned his success after coming home from a year training in the US. He was a good engineer, and quickly contributed to a lot of projects. From there, he built his businesses and ensure the welfare of his family. He built the house we all had lived in, he let my grandma built her own boutique, and gave proper education for his children (4 of them).

There were a lot of simple, yet real story being told in his book, and even though it may not be written by a world-class writer, it is his legacy that I will always cherish. He is the first person that introduced me to Harry Potter (which is my first love, haha), the first person to recognize my rare pancreas disorder, and he teased me so much about how I can’t spell ‘R’ properly when I was a child, which motivates me to fix it (which I did!).

You will be missed. Rest in Peace, Aki.

IMG_3574

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Resensi ini kudedikasikan untuk penulis autobiografi kesayanganku, Aki Sriwiadi.

Tengah malam, ada telepon dari Bandung, berisi kabar bahwa kakek sudah tiada.

Tahun ini Aki (panggilan kami untuk kakek) didiagnosa sakit yang cukup berat, memberikan kami waktu yang cukup untuk mempersiapkan hal ini. Seminggu ini, seluruh keluarga berkumpul dan menemani beliau hampir 24 jam non-stop. 2 hari lalu pun aki sudah berpamitan ke semua, termasuk aku, walaupun lewat video call. Sebulan yang lalu, aku pulang ke Indonesia untuk bertemu beliau, dengan firasat membayang bahwa mungkin kali itu akan jadi yang terakhir. Bagaimana pun juga, ternyata masih tetap terasa sedih untuk tidak berada bersama keluarga ketika hal ini terjadi. Jadi, izinkan saya melakukan apa yang saya bisa.

Belum lama ini, Aki menuliskan autobiografinya dan menerbitkannya kecil-kecilan. Beliau mencetak bukunya dan membagikannya pada keluarga. Oleh karena itu, kamu mungkin tidak akan bisa menemukan buku ini di pasaran, jadi izinkan saya bercerita sedikit tentang buku ini.

Buku ini bercerita tentang hidupnya. Aki lahir tahun 1940, beberapa tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di Ngrambe, kota kecil di daerah Jawa Timur. Namun di usia belia, beliau segera berpisah dari keluarganya demi menempuh pendidikan yang lebih baik di kota besar. Walaupun keluarganya adalah keluarga kurang mampu, Aki adalah sosok yang giat dan mau bekerja keras untuk masa depannya.

Panjang cerita, walaupun beliau bermimpi untuk menjadi seorang guru, beliau tidak diterima di akademi dan malah diterima di Institut Teknologi Bandung. Aki mengambil jurusan geologi dan menekuni bidangnya selama kuliah, masa di mana ia bertemu Nini dan menikah dengannya. Namun setelah lulus, hidup tidak menjadi lebih mudah. Pada jaman itu, kondisi masyarakat Indonesia tidak bisa dikatakan makmur. Masyarakat miskin dan menderita. Walaupun Aki bekerja di Kementrian PU saat itu, gajinya sangat kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Dalam bukunya, aki banyak bercerita tentang pahit manis hidupnya saat itu. Beliau bercerita tentang membagi 3 sebuah apel untuk makan malam dengan Nini dan anaknya (ibuku), juga bercerita tentang rok Nini satu-satunya yang selalu dipakai saat acara besar, dan betapa cantiknya Nini menurut Aki dengan rok itu. Ibuku saat itu hanya diberi makan bubur karena Nini harus menghemat beras, dan Nini pun seringkali hanya makan sisa-sisa makanan dari Aki dan anaknya. Ia juga bercerita tentang penyakitnya yang langka yang tak juga kunjung teridentifikasi dokter (yang bahkan sampai sekarang tak semua dokter dapat segera mengidentifikasinya).

Setelah kembali dari pelatihan di Amerika, Aki menjadi lebih handal dan menangani lebih banyak proyek. Dari sana lah beliau membangun bisnisnya dan memberi kehidupan yang layak untuk keluarganya. Ia membangun rumah yang masih kami tinggali, memberi modal pada Nini untuk membuat butiknya sendiri, dan menyekolahkan 4 anak-anaknya ke sekolah yang bagus.

Mungkin cerita ini hanyalah cerita nyata sederhana yang bukan ditulis oleh penulis kelas dunia, namun ini adalah warisan beliau yang akan kami kenang dan jaga. Aki-lah yang pertama mengenalkanku pada Harry Potter, mengenali gejala penyakitku, dan menggodaku karena cadel sehingga aku termotivasi untuk memperbaikinya.

Aki, semoga Tuhan menyiapkan tempat yang baik untukmu. Amin.

A Court of Mist and Fury – Sarah J. Maas

Rating: 4.1 out of 5

“To the people who look at the stars and wish”

A Court of Mist and Fury (2)

Review in English:

The end of a story was made. But was it really the ending?

 It is a twisted part of a fairytale, when apparently living in the castle is not as amazing as expected, when being with the prince is evidently suffocating, as her scars are holding her back to have the life she wanted. What if his scars change his way of loving her? What if a punishment turns out to be the best escape? What if the villain is not a villain after all? This story against all the stereotypes, the story from other side.

When I read this book, I was so ecstatic it was really hard to put it down. There are many surprises, new characters, new findings, a lot of romance, all wrapped in rich back story. Hands down to Sarah J. Maas, from me. As I mentioned earlier, it was also full of romance, and even more intense than the first book. Honestly, this second book of the series is better than the first one indeed.

Here’s a preview!

After rescuing her lover Tamlin from a wicked Faerie Queen, she returns to the Spring Court possessing the powers of the High Fae. But Feyre cannot forget the terrible deeds she performed to save Tamlin’s people – nor the bargain she made with Rhysand, High Lord of the feared Night Court. As Feryre is drawn even deeper into Rhysand’s dark web of politics and passion, war is looming and an evil far greater than any queen threatens to destroy everything Feyre has fought for. She must confront the past, embrace her gifts and decide her fate.

A Court of Mist and Fury

Review dalam Bahasa Indonesia:

Apakah penutup cerita benar-benar akhir dari cerita?

Ini bukan dongeng biasa, melainkan dongeng dengan kejutan-kejutan yang abnormal. Bagaimana jika kehidupan di istana tidaklah spektakuler seperti yang diharapkan? Bagaimana jika hidup bersama Sang Pangeran terasa menyesakkan, karena luka-luka dalam dirinya menahannya untuk menggapai mimpi yang ia inginkan? Bagaimana kalau luka-luka yang ditanggung oleh Pangeran justru mengubah caranya dalam mencintai? Apa yang akan terjadi jika hukuman justru  menjadi tempat pelarian yang terbaik? Dan bagaimana jika tokoh antagonis bukanlah seorang antagonis? Cerita ini melawan semua dogma, menampilkan cerita dari perspektif yang berbeda.

Saat saya membaca buku ini, ceritanya membuat saya ketagihan dan tidak bisa berhenti membacanya. Banyak kejutan, karakter baru, hal-hal baru, yang ditopang dengan latar belakang cerita yang kaya. Salut sekali dengan Sarah J. Maas, yang mampu mempresentasikan cerita dengan brilian. Seperti yang disebutkan sebelumnya, buku ini memang penuh dengan romantisme, dan bahkan lebih intens dari buku sebelumnya. Dan bahkan saya berani bilang bahwa buku ini lebih bagus dari buku pertamanya!

Berikut cuplikannya:

Setelah menyelamatkan Tamlin dari cengkraman ratu keji, ia kembali ke Kerajaan Musim Semi dengan kekuatan Peri Agung dalam dirinya. Namun, Feyre tidak bisa melupakan hal-hal buruk yang ia lakukan demi menyelamatkan Tamlin, dan ia pun tidak bisa lupa tentang perjanjian yang ia buat dengan Rhysand, raja dari Kerajaan Malam yang ditakuti banyak orang. Semakin dalam ia terjebak dalam permainan politik yang dimainkan Rhysand, semakin dekat mereka dengan perang dan kekuatan jahat yang jauh lebih besar dari ratu mana pun, siap menghancurkan semua yang telah diperjuangkan oleh Feyre. Kali ini, ia harus berani menghadapi masa lalunya, menerima kelebihan yang ia terima, dan memilih takdirnya.

The Magic Strings of Frankie Presto – Mitch Albom

Rating: 3.3 out of 5

“When you listen, you learn. Remember that. In music and in life.”

The Magic Strings of Frankie Presto (2)

Review in English: 

What if Music can speak?

What if Music can tell you the story of the most successful successor of it? Maybe it was there from the very beginning, and been watching him/her, nudging them in times of need.

I always love Mitch Albom’s novels. However, I like this particular book because it talks about music beautifully. To me, book and music are my breath. One of it is the food for my brain, and the other is the fuel to my heart. And this one combines it!

This is the story of a man called Frankie Presto with huge talent in music, and amazing life journey, and his ups and downs while trying to follow his love to music. The Magic Strings of Frankie Presto is so well written I almost believe that it is indeed a true story. If only the element of magic is not there, I am pretty sure I’ll believe the existence of Frankie. Why? Because inside this book, the names of real musician keep coming up, even their interviews about their encounters with Frankie Presto. Amazing, huh?

The story keeps you on edge, as it keeps going up and down, bouncing along with your feelings, while your curiosity keeps increasing. Mitch Albom successfully played with your mind, while also enriching it. Personally, to me, this book made me miss music so much, as there are a lot of music terms, music history, and even song’s names that made me stop, look for the song, and read the book while listening to it. Just marvelous.

The Magic Strings of Frankie Presto

Resensi dalam Bahasa Indonesia: 

Bagaimana kalau Musik bisa bicara?

Bagaimana jika Musik bisa menceritakan cerita-cerita dari para ‘muridnya’? Bagaimana bila ia mengamati sejak awal, menyaksikan hidup mereka, dan memberi dorongan-dorongan tertentu di momen-momen penting?

Aku selalu suka novel-novel karya Mitch Albom. Namun, buku ini berbeda, karena ia berbicara tentang musik. Bagiku, buku dan musik seperti nafas. Buku sebagai makanan untuk otak, dan musik untuk asupan hati. Dan buku ini mengombinasikan 2 hal itu!

Ini adalah cerita tentang seorang lelaki bernama Frankie Presto, yang mempunyai bakat yang besar dalam musik serta pengalaman hidup yang luar biasa, dan jatuh bangunnya dalam menempuh cintanya terhadap musik. The Magic Strings of Frankie Presto ditulis dengan sangat baik sampai-sampai sulit untuk percaya bahwa ini bukan cerita nyata. Kalau saja tidak ada unsur keajaiban dalam buku ini, sangat mudah untuk meyakini bahwa Franki Presto pernah benar-benar ada. Mengapa? Dalam buku ini, ada banyak nama-nama musisi nyata yang bercerita dan mengakui bahwa jalan hidup mereka pernah bersinggungan dengan Frankie Presto. Luar biasa, kan?

Cerita dalam buku ini tidak pernah membosankan, dengan alur yang naik dan turun, mengaduk-aduk perasaan dan meningkatkan rasa penasaran pembaca. Mitch Albom tidak hanya mempermainkan emosi pembaca, tapi juga memperkaya wawasan pembaca. Bagi saya pribadi, buku ini membuat saya rindu akan musik. Ada begitu banyak istilah-istilah music yang digunakan, sejarah musik, dan bahkan judul-judul lagu asli yang membuat saya berhenti membaca sesaat, mencari lagu tersebut, lalu meneruskan membaca sambil mendengarkan lagu. Menarik, bukan?

Everyone’s A Aliebn When You’re A Aliebn Too – Jomny Son

Rating:  3.6 out of 5

“When two aliebns fimd each other in a strange place, it feels a little more like home”

Everyone's A Aliebn

Review in English:

No, the title is not misspelled. Hahaha

To find this book is to be freed from all the suffocating twist of life.

When I saw this book and heard my friend’s recommendation, I thought it will be similar to Little Prince. Some sweet story about the alien but with reflections of life. However, it is so different than that.

This is not a book to read.

This is a book to make you smile. To cheer you up. For you to read every day, one page at a time.

The book fits for all age, as it consists of simple languages, and full of illustrations. It seems like a children’s book, but it really touches a deeper meaning than you may think. Something to refresh your mind, be grateful of your life, reminded that you are not alone, and your mind might the only think that makes your own life harder. This book might guide you to the bright exit from your own dark maze inside your mind.

For all the hard days you may bear, I really recommend you to purchase and have this book as your emergency kit fighting depression. Have a good read! 🙂

Everyones a aliebn when you're a aliebn too

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Eits, jangan cemberut dulu, judulnya bukan typo kok. Hahaha

Membaca buku ini rasanya seperti dibebaskan dari keruwetan hidup.

Pertama kali melihat buku ini dan mendengar rekomendasi dari teman, aku pikir buku ini akan mirip seperti buku Little Prince. Cerita yang sederhana tapi dalam tentang sesosok ‘alien’. Tapi ternyata, buku ini beda.

Buku ini bukan untuk dibaca.

Buku ini ada untuk membuat kamu tersenyum. Untuk menghibur kamu. Untuk kamu baca setiap hari, satu halaman saja. Dan jelas bukan untuk dibaca buru-buru.

Buku ini cocok untuk semua umur, bahasanya sederhana dan penuh dengan ilustrasi. Bahkan aku merekomendasikan buku ini untuk yang sedang belajar Bahasa Inggris (iya, sepertinya terjemahan Bahasa Indonesia nya belum ada). Buku ini bisa membantumu menyegarkan pikiran, bersyukur akan hidupmu, mengingatkan kamu bahwa kamu tidak sendiri, dan membuatmu sadar bahwa mungkin yang membuat hidupmu rumit adalah pikiran-pikiranmu sendiri. Dan buku ini mampu membimbingmu keluar dari labirin gelap.

Mungkin sekarang atau di masa depan, kamu akan menghadapi hari-hari yang berat untuk dilalui, untuk itu, aku menyarankan untuk menyimpan buku ini sebagai penolong darurat di kala masa itu datang. Selamat membaca! 🙂

A Court of Thorns and Roses – Sarah J. Maas

Rating: 3.7 out of 5

“We need hope, or else we cannot endure”

A Court of Thorns and Roses (1)

Review in English:

I was late to know this book. Super late.

To be honest, I was not that optimist about reading fantasy novel as it often disappoints me, except Harry Potter or Hunger Games. However, those two are only a few that I admitted good. Yet a friend of mine recommend me this series, and turns out, I really like it.

This story combines fairytale and rebelliousness, with some spicy adult romance that is so well written. But it never loses the plot, the twist, and everything about it. It is far from cliché, yet in the same time also cliché hahaha. However, it is as far as day and night to a thing called boring. I truly love it.

However, I do think it is a novel for a girl, as the main character is a girl, and the story has a lot portion of romance, even though of course the adventure part is as juicy. I love how detailed the story is, there are a lot of characters not as it looks/seems, and things that raised questions. It keeps you on edge. I really couldn’t put it down!

Here’s a snapshot!

The story sets of in a world divided into two territories, the human land and faeries land. The main character, Feyre, is a human living in a village very close to the border of faeries land. She and her family hates all faeries, condemning them for the miserable life they have to lead. They are poor, starving, and unhappy.  Until one day, Feyre went hunting, and in the woods she met a faery. She killed it. Soon, her life turns upside down.

A Court of Thorns and Roses (2)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Aku sangat sangat telat tahu tentang buku ini.

Sebenarnya, aku tidak begitu optimis dalam membaca buku bertema fantasi, karena seringkali dikecewakan oleh gaya penulisannya, tentu saja kecuali Harry Potter dan Hunger Games yang memang sangat menarik. Seorang teman merekomendasikan saya buku ini, dan ternyata, saya sangat suka!

Untuk pembaca Indonesia, buku ini sudah terbit versi terjemahannya loh! Tapi sayangnya karena saya membacanya dalam Bahasa Inggris, aku ga bisa memberi review tentang apakah terjemahannya bagus atau nggak. Tapi wajib baca sih! Oh ya, karena buku ini berkonten agak dewasa, aku tetap menyarankan untuk yang di bawah umur untuk lebih hati-hati dalam membacanya! Hehe.

Buku ini mengombinasikan dongeng dan perjuangan, dan memang dibilang didasarkan dari cerita Beauty and The Beast yang kemudian divariasikan lagi. Tapi sejujurnya, menuruku ini jauh lebih dari itu. Memang unsur dongengnya terasa kental, namun ceritanya jauh lebih kaya dari itu. Jauh dari klise, namun di waktu yang sama juga dekat dengannya. Yang jelas, sama sekali jauh dari kata membosankan.

Namun, menurutku pribadi, buku ini memang mungkin lebih disukai oleh perempuan, karena adanya porsi romantisme yang cukup besar, walaupun diimbangi dengan petualangan yang selalu menegangkan. Ceritanya yang detail, perkembangan karakter yang sering kali di luar dugaan, dan misteri-misteri yang tidak terjawab bikin kita sama sekali ga bisa berhenti baca ini!

Berikut cuplikannya:

Cerita ini berlatar belakang di dunia yang terbagi dua antara daratan milik manusia dan daratan milik peri. Seorang gadis remaja, Feyre, tinggal di suatu desa yang berbatasan langsung dengan daratan peri, dan ia serta keluarganya sangat membenci kaum yang tidak pernah dilihatnya itu. Ia dididik untuk menyalahkan mereka atas kemiskinan dan kelaparan yang keluarga dan masyarakatnya tanggung. Sampai suatu hari, Feyre pergi ke hutan untuk berburu. Di sana, ia bertemu dengan serigala raksasa dan membunuhnya. Dan sejak itulah, hidupnya bukan lagi miliknya….

My (Not So) Perfect Life – Sophie Kinsella

Rating: 3.4 out of 5

Whoever started the rumor that life has to be perfect is a very wicked person, if you ask me

My (not so) Perfect Life (2)

Review in English:

There are times when I feel so insecure about my life state, or my self-esteem dropped, thanks to comparing myself with those perfect, high-achievements people. And I am sure you have those moments too.

 On one of these moments, I grabbed My (Not So) Perfect Life by Sophie Kinsella book straight from the shelf and binge-read it. It is SO what I need.

This book is light, hilarious, and relatable to any girl out there with millions of insecurities that we carry throughout our days. Especially for the ones on their 20s-30s, still trudging through their search of life-purposes.

From the very first sentence of the book, Sophie Kinsella’s signature pops up from it.  She hooked the readers enchantingly from the very first look. That kind of panic ambience that she pictured from it makes you unable to tear out your gaze from this book. It has always been my favourite part of her books, her first sentence.

It is indeed a simple story, funny, sweet, but more than what lies there, the message Sophie Kinsella trying to convey is being delivered beautifully. She answered to youth’s issues that are widely spreading in the world, and re-package it in a captivating story.

 

Here’s a preview!

Katie Brenner has the perfect life: a flat in London, a glamorous job, and a super-cool Instagram feed.

OK, so the truth is that she rents a tiny room with no space for a wardrobe, has a hideous commute to a lowly admin job, and the life she shares on Instagram isn’t really hers. But one day her dreams are bound to come true, aren’t they?

My (not so) Perfect Life

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Di era serba indah di sosial media zaman sekarang ini, sangat mudah untuk merasa rendah diri ketika melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Saat sedang merasa tidak percaya diri, tentunya kita butuh pelarian atau sesuatu untuk mengingatkan kita akan hal yang lebih positif.

Buku ini, kebetulan, sangat cocok untuk menenangkan mereka (termasuk aku) yang terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain yang terlihat sempurna.

Seperti biasanya, Sophie Kinsella mempresentasikan buku ini dengan ringan, lucu, dan penuh pemahaman akan isu yang dialami audiensnya yang pada umumnya berkisar umur 20-30 tahun.

Sejak kalimat pertama dalam bukunya, pembaca akan diseret dalam cerita milik Sophie Kinsella. Kalimat pertama Kinsella dalam setiap novelnya selalu menjadi ciri khas yang mencolok, dan merupakan bagian yang paling saya sukai. Ia selalu menggambarkan situasi yang mendesak pada kalimat pertama novel-novelnya, membuat pembaca didorong rasa penasaran yang besar untuk menggali ceritanya. Sangat cerdas.

Cerita dalam buku ini adalah cerita sederhana, penuh humor, namun juga manis. Namun, lebih dari itu, Sophie Kinsella mampu menyampaikan suatu pesan penting yang berguna bagi para penggemarnya. Melalui cerita ini, ia mencoba menjawab dan memberikan nasihat bagi para perempuan di dunia.

 

Berikut sedikit sinopsisnya!

Katie Brenner terlihat memiliki hidup yang sempurna. Ia tinggal di apartemen di London, punya pekerjaan bergengsi, dan feed Instagram yang menarik dan berkelas.

Tapi kenyataannya, ia menyewa apartemen tanpa ruang untuk lemari baju, setiap hari menempuh jarak jauh dan berdesakan di kereta demi mencapai kantor di mana ia hanya mengerjakan pekerjaan administrasi sepele, dan foto-foto Instagram yang dia upload di Instagram bukanlah dari hidupnya. Tapi, suatu hari, mimpinya pasti akan menjadi nyata….kan?

Animal Farm – George Orwell

Rating: 3.6 out of 5

All animals are equal, but some animals are more equal than others.

Animal Farm (2)

Review in English:

Dear a busy person,

Dear not-a-book person,

 

You CAN read this.

 

Well, I want to present you this thin, yet interesting book review!

Even though your effort to read this will be minimum, you can boast it in front of your friends, dear readers! Hahahaha

There is something incredibly metaphorical in the story of this book. Somehow I found it as a way to criticizing the government nowadays, and the society.

This is not a story about humans. It is 100% story about animals. Smart animals. That turns the table on cruel humans. The thing is, as I read this book, more and more it reminded me of my own country, Indonesia. How it feels like trying to tell the story of colonialization and the development of a civilization. It looks like a simple story, but the conflicts, the character build up is truly smart and captivating.

I didn’t expect to find such depth on such thin book. But I did indeed. However, I do think that the person’s background may affect on how they will understand the story, like I said, because it is very metaphorical. If you read it just as it is, I am sure it wouldn’t left a deep thinking on your thoughts, but if you try to connect it with something, the story feels so much more impactful.

The one thing I am not fully satisfied is maybe the ending, but it wasn’t because it was a bad ending, it’s just something that I didn’t expect. But I won’t spoil it for you, would I?

 Here’s a little preview from the back of the book!

Mr. Jones of Manor Farm is so lazy and drunken that one day he forgets to feed his livestock. The ensuing rebellion under the leadership of the pigs Napoleon and Snowball leads to the animals taking over the farm. Vowing to eliminate the terrible inequities of the farmyard, the renamed Animal Farm is organized to benefit all who walk on four legs. But as time passes, the ideals of the rebellion are corrupted, then forgotten. And something new and unexpected emerges…..

 Animal Farm (1)

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Untuk kalian yang terlalu sibuk,

Untuk kalian yang tidak suka membaca,

 

Kalian BISA BANGET baca buku ini!

 

Hari ini aku ingin meresensi buku tipis yang menarik ini!

Walaupun usaha yang perlu kamu keluarkan untuk membaca buku ini minim, kamu bisa banget loh bangga sudah pernah membaca salah satu karya penulis legendaris ini!

Ada sesuatu yang implisit tersembunyi di balik cerita buku ini. Ada kesan bahwa suatu kritik terhadap masyarakat dan pemerintah sedang disampaikan melalui ceritanya.

Cerita ini 100% tentang hewan. Peran manusia ada, namun bukanlah sorotan utama. Ini tentang hewan-hewan cerdas yang melakukan reformasi terhadap manusia dan hidupnya.

Karena satu dan lain hal, cerita ini mengingatkanku tentang Indonesia. Eratnya kaitan cerita ini dengan penjajahan dan perkembangan suatu peradaban meninggalkan suatu kesan yang dalam. Unsur metafor, konflik, dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya sangat menakjubkan untuk dibaca.

Pada awalnya, aku sama sekali tidak berekspektasi untuk menemukan suatu makna dan pemikiran yang dalam saat membaca buku yang begini tipis. Namun memang, menurutku, latar belakang seorang pembaca akan berpengaruh besar dalam bagaimana kesan yang akan ditinggalkan oleh buku ini. Jika buku ini hanya dibaca begitu saja, tentu rasanya seperti cerita-cerita lain pada umumnya, namun kalau kalian bisa mendeteksi makna dan menganalisis pesan dari buku ini, ia dapat meninggalkan kesan yang bermakna.

Mungkin satu hal yang aku tidak sepenuhnya puas adalah akhir dari ceritanya. Bukan karena akhir cerita ini buruk, tapi di luar ekspektasiku. Tapi tenang, akhir ceritanya nggak akan aku bocorin, kok 😀

Berikut sinopsis dari buku Animal Farm!

Tuan Jones, pemilik dari Manor Farm adalah seorang pemalas dan pemabuk. Pada suatu hari, berkat kebiasaan jeleknya, ia lupa memberi makan ternak-ternaknya. Dua ekor babi bernama Napoleon dan Snowball mengambil peran pemimpin di antara hewan ternak lainnya, dan memimpin revolusi demi mengambil alih peternakan. Dengan sumpah untuk memusnahkan segala ketidaksetaraan dan menyejahterakan semua hewan, mereka mengubah nama peternakan menjadi Animal Farm. Namun seiring berjalannya waktu, idealisme revolusi terkontaminasi, lalu terlupakan. Dan hal-hal baru dan tak terduga pun bermunculan……