Dari Ngrambe ke Colorado Lewat Bandung – Ir. Sriwiadi Djais Hardjosoemarto

 Warning: This is a book limited to our family circle, but I still hope this review could be a tribute for my grandpa

b49ce521-876c-4e26-ad8a-185472c905f5

Review in English:

This is a special review. A tribute for my beloved autobiographer, my grandpa, Sriwiadi.

Early this morning, I received a phone call from 3607 miles away telling me my grandfather has passed away. He was sick, and we have seen this coming. All my family have been gathering and stand by his side literally non-stop. He had time to say proper goodbyes to all of us, even me, via video chat. However, it does ache me that I cannot be with them on this sad, sad, day. So let me do what I can do.

3-4 years ago, my grandpa wrote this book and packaged it to his family. He made a sufficient amount of copies for his circle. You may not able to find this book in the market, so let me tell you about it.

This is the story of his life. He was born in 1940, which means he experienced the time before Indonesia’s independence. He was born in Ngrambe, a small city in the Eastern Java. Even I have never been there. For the sake of better education, he separated from his family so early in the childhood. They were poor, but my grandpa was tough and willing to work hard for his future. 

Long story short, he made it into the best technology institute in Indonesia at that time, despite originally, his dream was to be a teacher. He was enrolled in Geology department, and even though graduating was super difficult at the time, he made it. During college, he met my grandma, and they got married. Life after graduating wasn’t easy. Indonesia has just declared its independence, still a baby country. People were poor and suffered, though the country’s ambition to grow was burning. My grandpa worked for the government, Ministry of Public Works and Public Housing to be exact. However, the pay was very low, and he can barely provide for the family (at that time, it was my grandma and my mother).

 In the book, he told us heart-wrenching stories of how they divide an apple to three for dinner, how my grandma only has one skirt and how beautiful he thinks she is in it. He also told us that my mother had only been given porridge, because my grandma had to save rice, and she often ate the crumbs of my mother’s foods. He also told the story on how he finally discovered the name and treatment of his rare illness, that even to this day not all doctors can quickly identify it.

He earned his success after coming home from a year training in the US. He was a good engineer, and quickly contributed to a lot of project. From there, he built his businesses and ensure the welfare of his family. He built the house we all had lived in, he let my grandma built her own boutique, and gave proper education for his children (4 of them).

There were a lot of simple, yet real story being told in his book, and even though it may not be written by a world-class writer, it is his legacy that I will always cherish. He is the first person that introduces me to Harry Potter (which is my first love, haha), the first person to recognize my rare pancreas disorder, and he teased me so much about how I can’t spell ‘R’ properly when I was a child, which motivates me to fix it (which I did!).

You will be missed. Rest in Peace, Aki.

IMG_3574

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Resensi ini kudedikasikan untuk penulis autobiografi kesayanganku, Aki Sriwiadi.

Tengah malam, ada telepon dari Bandung, berisi kabar bahwa kakek sudah tiada.

Tahun ini Aki (panggilan kami untuk kakek) didiagnosa sakit yang cukup berat, memberikan kami waktu yang cukup untuk mempersiapkan hal ini. Seminggu ini, seluruh keluarga berkumpul dan menemani beliau hampir 24 jam non-stop. 2 hari lalu pun aki sudah berpamitan ke semua, termasuk aku, walaupun lewat video call. Sebulan yang lalu, aku pulang ke Indonesia untuk bertemu beliau, dengan firasat membayang bahwa mungkin kali itu akan jadi yang terakhir. Bagaimana pun juga, ternyata masih tetap terasa sedih untuk tidak berada bersama keluarga ketika hal ini terjadi. Jadi, izinkan saya melakukan apa yang saya bisa.

Belum lama ini, Aki menuliskan autobiografinya dan menerbitkannya kecil-kecilan. Beliau mencetak bukunya dan membagikannya pada keluarga. Oleh karena itu, kamu mungkin tidak akan bisa menemukan buku ini di pasaran, jadi izinkan saya bercerita sedikit tentang buku ini.

Buku ini bercerita tentang hidupnya. Aki lahir tahun 1940, beberapa tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di Ngrambe, kota kecil di daerah Jawa Timur. Namun di usia belia, beliau segera berpisah dari keluarganya demi menempuh pendidikan yang lebih baik di kota besar. Walaupun keluarganya adalah keluarga kurang mampu, Aki adalah sosok yang giat dan mau bekerja keras untuk masa depannya.

Panjang cerita, walaupun beliau bermimpi untuk menjadi seorang guru, beliau tidak diterima di akademi dan malah diterima di Institut Teknologi Bandung. Aki mengambil jurusan geologi dan menekuni bidangnya selama kuliah, masa di mana ia bertemu Nini dan menikah dengannya. Namun setelah lulus, hidup tidak menjadi lebih mudah. Pada jaman itu, kondisi masyarakat Indonesia tidak bisa dikatakan makmur. Masyarakat miskin dan menderita. Walaupun Aki bekerja di Kementrian PU saat itu, gajinya sangat kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Dalam bukunya, aki banyak bercerita tentang pahit manis hidupnya saat itu. Beliau bercerita tentang membagi 3 sebuah apel untuk makan malam dengan Nini dan anaknya (ibuku), juga bercerita tentang rok Nini satu-satunya yang selalu dipakai saat acara besar, dan betapa cantiknya Nini menurut Aki dengan rok itu. Ibuku saat itu hanya diberi makan bubur karena Nini harus menghemat beras, dan Nini pun seringkali hanya makan sisa-sisa makanan dari Aki dan anaknya. Ia juga bercerita tentang penyakitnya yang langka yang tak juga kunjung teridentifikasi dokter (yang bahkan sampai sekarang tak semua dokter dapat segera mengidentifikasinya).

Setelah kembali dari pelatihan di Amerika, Aki menjadi lebih handal dan menangani lebih banyak proyek. Dari sana lah beliau membangun bisnisnya dan memberi kehidupan yang layak untuk keluarganya. Ia membangun rumah yang masih kami tinggali, memberi modal pada Nini untuk membuat butiknya sendiri, dan menyekolahkan 4 anak-anaknya ke sekolah yang bagus.

Mungkin cerita ini hanyalah cerita nyata sederhana yang bukan ditulis oleh penulis kelas dunia, namun ini adalah warisan beliau yang akan kami kenang dan jaga. Aki-lah yang pertama mengenalkanku pada Harry Potter, mengenali gejala penyakitku, dan menggodaku karena cadel sehingga aku termotivasi untuk memperbaikinya.

Aki, semoga Tuhan menyiapkan tempat yang baik untukmu. Amin.

Advertisements

A Court of Mist and Fury – Sarah J. Maas

Rating: 4.1 out of 5

“To the people who look at the stars and wish”

A Court of Mist and Fury (2)

Review in English:

The end of a story was made. But was it really the ending?

 It is a twisted part of a fairytale, when apparently living in the castle is not as amazing as expected, when being with the prince is evidently suffocating, as her scars are holding her back to have the life she wanted. What if his scars change his way of loving her? What if a punishment turns out to be the best escape? What if the villain is not a villain after all? This story against all the stereotypes, the story from other side.

When I read this book, I was so ecstatic it was really hard to put it down. There are many surprises, new characters, new findings, a lot of romance, all wrapped in rich back story. Hands down to Sarah J. Maas, from me. As I mentioned earlier, it was also full of romance, and even more intense than the first book. Honestly, this second book of the series is better than the first one indeed.

Here’s a preview!

After rescuing her lover Tamlin from a wicked Faerie Queen, she returns to the Spring Court possessing the powers of the High Fae. But Feyre cannot forget the terrible deeds she performed to save Tamlin’s people – nor the bargain she made with Rhysand, High Lord of the feared Night Court. As Feryre is drawn even deeper into Rhysand’s dark web of politics and passion, war is looming and an evil far greater than any queen threatens to destroy everything Feyre has fought for. She must confront the past, embrace her gifts and decide her fate.

A Court of Mist and Fury

Review dalam Bahasa Indonesia:

Apakah penutup cerita benar-benar akhir dari cerita?

Ini bukan dongeng biasa, melainkan dongeng dengan kejutan-kejutan yang abnormal. Bagaimana jika kehidupan di istana tidaklah spektakuler seperti yang diharapkan? Bagaimana jika hidup bersama Sang Pangeran terasa menyesakkan, karena luka-luka dalam dirinya menahannya untuk menggapai mimpi yang ia inginkan? Bagaimana kalau luka-luka yang ditanggung oleh Pangeran justru mengubah caranya dalam mencintai? Apa yang akan terjadi jika hukuman justru  menjadi tempat pelarian yang terbaik? Dan bagaimana jika tokoh antagonis bukanlah seorang antagonis? Cerita ini melawan semua dogma, menampilkan cerita dari perspektif yang berbeda.

Saat saya membaca buku ini, ceritanya membuat saya ketagihan dan tidak bisa berhenti membacanya. Banyak kejutan, karakter baru, hal-hal baru, yang ditopang dengan latar belakang cerita yang kaya. Salut sekali dengan Sarah J. Maas, yang mampu mempresentasikan cerita dengan brilian. Seperti yang disebutkan sebelumnya, buku ini memang penuh dengan romantisme, dan bahkan lebih intens dari buku sebelumnya. Dan bahkan saya berani bilang bahwa buku ini lebih bagus dari buku pertamanya!

Berikut cuplikannya:

Setelah menyelamatkan Tamlin dari cengkraman ratu keji, ia kembali ke Kerajaan Musim Semi dengan kekuatan Peri Agung dalam dirinya. Namun, Feyre tidak bisa melupakan hal-hal buruk yang ia lakukan demi menyelamatkan Tamlin, dan ia pun tidak bisa lupa tentang perjanjian yang ia buat dengan Rhysand, raja dari Kerajaan Malam yang ditakuti banyak orang. Semakin dalam ia terjebak dalam permainan politik yang dimainkan Rhysand, semakin dekat mereka dengan perang dan kekuatan jahat yang jauh lebih besar dari ratu mana pun, siap menghancurkan semua yang telah diperjuangkan oleh Feyre. Kali ini, ia harus berani menghadapi masa lalunya, menerima kelebihan yang ia terima, dan memilih takdirnya.

The Magic Strings of Frankie Presto – Mitch Albom

Rating: 3.3 out of 5

“When you listen, you learn. Remember that. In music and in life.”

The Magic Strings of Frankie Presto (2)

Review in English: 

What if Music can speak?

What if Music can tell you the story of the most successful successor of it? Maybe it was there from the very beginning, and been watching him/her, nudging them in times of need.

I always love Mitch Albom’s novels. However, I like this particular book because it talks about music beautifully. To me, book and music are my breath. One of it is the food for my brain, and the other is the fuel to my heart. And this one combines it!

This is the story of a man called Frankie Presto with huge talent in music, and amazing life journey, and his ups and downs while trying to follow his love to music. The Magic Strings of Frankie Presto is so well written I almost believe that it is indeed a true story. If only the element of magic is not there, I am pretty sure I’ll believe the existence of Frankie. Why? Because inside this book, the names of real musician keep coming up, even their interviews about their encounters with Frankie Presto. Amazing, huh?

The story keeps you on edge, as it keeps going up and down, bouncing along with your feelings, while your curiosity keeps increasing. Mitch Albom successfully played with your mind, while also enriching it. Personally, to me, this book made me miss music so much, as there are a lot of music terms, music history, and even song’s names that made me stop, look for the song, and read the book while listening to it. Just marvelous.

The Magic Strings of Frankie Presto

Resensi dalam Bahasa Indonesia: 

Bagaimana kalau Musik bisa bicara?

Bagaimana jika Musik bisa menceritakan cerita-cerita dari para ‘muridnya’? Bagaimana bila ia mengamati sejak awal, menyaksikan hidup mereka, dan memberi dorongan-dorongan tertentu di momen-momen penting?

Aku selalu suka novel-novel karya Mitch Albom. Namun, buku ini berbeda, karena ia berbicara tentang musik. Bagiku, buku dan musik seperti nafas. Buku sebagai makanan untuk otak, dan musik untuk asupan hati. Dan buku ini mengombinasikan 2 hal itu!

Ini adalah cerita tentang seorang lelaki bernama Frankie Presto, yang mempunyai bakat yang besar dalam musik serta pengalaman hidup yang luar biasa, dan jatuh bangunnya dalam menempuh cintanya terhadap musik. The Magic Strings of Frankie Presto ditulis dengan sangat baik sampai-sampai sulit untuk percaya bahwa ini bukan cerita nyata. Kalau saja tidak ada unsur keajaiban dalam buku ini, sangat mudah untuk meyakini bahwa Franki Presto pernah benar-benar ada. Mengapa? Dalam buku ini, ada banyak nama-nama musisi nyata yang bercerita dan mengakui bahwa jalan hidup mereka pernah bersinggungan dengan Frankie Presto. Luar biasa, kan?

Cerita dalam buku ini tidak pernah membosankan, dengan alur yang naik dan turun, mengaduk-aduk perasaan dan meningkatkan rasa penasaran pembaca. Mitch Albom tidak hanya mempermainkan emosi pembaca, tapi juga memperkaya wawasan pembaca. Bagi saya pribadi, buku ini membuat saya rindu akan musik. Ada begitu banyak istilah-istilah music yang digunakan, sejarah musik, dan bahkan judul-judul lagu asli yang membuat saya berhenti membaca sesaat, mencari lagu tersebut, lalu meneruskan membaca sambil mendengarkan lagu. Menarik, bukan?

Everyone’s A Aliebn When You’re A Aliebn Too – Jomny Son

Rating:  3.6 out of 5

“When two aliebns fimd each other in a strange place, it feels a little more like home”

Everyone's A Aliebn

Review in English:

No, the title is not misspelled. Hahaha

To find this book is to be freed from all the suffocating twist of life.

When I saw this book and heard my friend’s recommendation, I thought it will be similar to Little Prince. Some sweet story about the alien but with reflections of life. However, it is so different than that.

This is not a book to read.

This is a book to make you smile. To cheer you up. For you to read every day, one page at a time.

The book fits for all age, as it consists of simple languages, and full of illustrations. It seems like a children’s book, but it really touches a deeper meaning than you may think. Something to refresh your mind, be grateful of your life, reminded that you are not alone, and your mind might the only think that makes your own life harder. This book might guide you to the bright exit from your own dark maze inside your mind.

For all the hard days you may bear, I really recommend you to purchase and have this book as your emergency kit fighting depression. Have a good read! 🙂

Everyones a aliebn when you're a aliebn too

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Eits, jangan cemberut dulu, judulnya bukan typo kok. Hahaha

Membaca buku ini rasanya seperti dibebaskan dari keruwetan hidup.

Pertama kali melihat buku ini dan mendengar rekomendasi dari teman, aku pikir buku ini akan mirip seperti buku Little Prince. Cerita yang sederhana tapi dalam tentang sesosok ‘alien’. Tapi ternyata, buku ini beda.

Buku ini bukan untuk dibaca.

Buku ini ada untuk membuat kamu tersenyum. Untuk menghibur kamu. Untuk kamu baca setiap hari, satu halaman saja. Dan jelas bukan untuk dibaca buru-buru.

Buku ini cocok untuk semua umur, bahasanya sederhana dan penuh dengan ilustrasi. Bahkan aku merekomendasikan buku ini untuk yang sedang belajar Bahasa Inggris (iya, sepertinya terjemahan Bahasa Indonesia nya belum ada). Buku ini bisa membantumu menyegarkan pikiran, bersyukur akan hidupmu, mengingatkan kamu bahwa kamu tidak sendiri, dan membuatmu sadar bahwa mungkin yang membuat hidupmu rumit adalah pikiran-pikiranmu sendiri. Dan buku ini mampu membimbingmu keluar dari labirin gelap.

Mungkin sekarang atau di masa depan, kamu akan menghadapi hari-hari yang berat untuk dilalui, untuk itu, aku menyarankan untuk menyimpan buku ini sebagai penolong darurat di kala masa itu datang. Selamat membaca! 🙂

A Court of Thorns and Roses – Sarah J. Maas

Rating: 3.7 out of 5

“We need hope, or else we cannot endure”

A Court of Thorns and Roses (1)

Review in English:

I was late to know this book. Super late.

To be honest, I was not that optimist about reading fantasy novel as it often disappoints me, except Harry Potter or Hunger Games. However, those two are only a few that I admitted good. Yet a friend of mine recommend me this series, and turns out, I really like it.

This story combines fairytale and rebelliousness, with some spicy adult romance that is so well written. But it never loses the plot, the twist, and everything about it. It is far from cliché, yet in the same time also cliché hahaha. However, it is as far as day and night to a thing called boring. I truly love it.

However, I do think it is a novel for a girl, as the main character is a girl, and the story has a lot portion of romance, even though of course the adventure part is as juicy. I love how detailed the story is, there are a lot of characters not as it looks/seems, and things that raised questions. It keeps you on edge. I really couldn’t put it down!

Here’s a snapshot!

The story sets of in a world divided into two territories, the human land and faeries land. The main character, Feyre, is a human living in a village very close to the border of faeries land. She and her family hates all faeries, condemning them for the miserable life they have to lead. They are poor, starving, and unhappy.  Until one day, Feyre went hunting, and in the woods she met a faery. She killed it. Soon, her life turns upside down.

A Court of Thorns and Roses (2)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Aku sangat sangat telat tahu tentang buku ini.

Sebenarnya, aku tidak begitu optimis dalam membaca buku bertema fantasi, karena seringkali dikecewakan oleh gaya penulisannya, tentu saja kecuali Harry Potter dan Hunger Games yang memang sangat menarik. Seorang teman merekomendasikan saya buku ini, dan ternyata, saya sangat suka!

Untuk pembaca Indonesia, buku ini sudah terbit versi terjemahannya loh! Tapi sayangnya karena saya membacanya dalam Bahasa Inggris, aku ga bisa memberi review tentang apakah terjemahannya bagus atau nggak. Tapi wajib baca sih! Oh ya, karena buku ini berkonten agak dewasa, aku tetap menyarankan untuk yang di bawah umur untuk lebih hati-hati dalam membacanya! Hehe.

Buku ini mengombinasikan dongeng dan perjuangan, dan memang dibilang didasarkan dari cerita Beauty and The Beast yang kemudian divariasikan lagi. Tapi sejujurnya, menuruku ini jauh lebih dari itu. Memang unsur dongengnya terasa kental, namun ceritanya jauh lebih kaya dari itu. Jauh dari klise, namun di waktu yang sama juga dekat dengannya. Yang jelas, sama sekali jauh dari kata membosankan.

Namun, menurutku pribadi, buku ini memang mungkin lebih disukai oleh perempuan, karena adanya porsi romantisme yang cukup besar, walaupun diimbangi dengan petualangan yang selalu menegangkan. Ceritanya yang detail, perkembangan karakter yang sering kali di luar dugaan, dan misteri-misteri yang tidak terjawab bikin kita sama sekali ga bisa berhenti baca ini!

Berikut cuplikannya:

Cerita ini berlatar belakang di dunia yang terbagi dua antara daratan milik manusia dan daratan milik peri. Seorang gadis remaja, Feyre, tinggal di suatu desa yang berbatasan langsung dengan daratan peri, dan ia serta keluarganya sangat membenci kaum yang tidak pernah dilihatnya itu. Ia dididik untuk menyalahkan mereka atas kemiskinan dan kelaparan yang keluarga dan masyarakatnya tanggung. Sampai suatu hari, Feyre pergi ke hutan untuk berburu. Di sana, ia bertemu dengan serigala raksasa dan membunuhnya. Dan sejak itulah, hidupnya bukan lagi miliknya….

My (Not So) Perfect Life – Sophie Kinsella

Rating: 3.4 out of 5

Whoever started the rumor that life has to be perfect is a very wicked person, if you ask me

My (not so) Perfect Life (2)

Review in English:

There are times when I feel so insecure about my life state, or my self-esteem dropped, thanks to comparing myself with those perfect, high-achievements people. And I am sure you have those moments too.

 On one of these moments, I grabbed My (Not So) Perfect Life by Sophie Kinsella book straight from the shelf and binge-read it. It is SO what I need.

This book is light, hilarious, and relatable to any girl out there with millions of insecurities that we carry throughout our days. Especially for the ones on their 20s-30s, still trudging through their search of life-purposes.

From the very first sentence of the book, Sophie Kinsella’s signature pops up from it.  She hooked the readers enchantingly from the very first look. That kind of panic ambience that she pictured from it makes you unable to tear out your gaze from this book. It has always been my favourite part of her books, her first sentence.

It is indeed a simple story, funny, sweet, but more than what lies there, the message Sophie Kinsella trying to convey is being delivered beautifully. She answered to youth’s issues that are widely spreading in the world, and re-package it in a captivating story.

 

Here’s a preview!

Katie Brenner has the perfect life: a flat in London, a glamorous job, and a super-cool Instagram feed.

OK, so the truth is that she rents a tiny room with no space for a wardrobe, has a hideous commute to a lowly admin job, and the life she shares on Instagram isn’t really hers. But one day her dreams are bound to come true, aren’t they?

My (not so) Perfect Life

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Di era serba indah di sosial media zaman sekarang ini, sangat mudah untuk merasa rendah diri ketika melihat kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Saat sedang merasa tidak percaya diri, tentunya kita butuh pelarian atau sesuatu untuk mengingatkan kita akan hal yang lebih positif.

Buku ini, kebetulan, sangat cocok untuk menenangkan mereka (termasuk aku) yang terlalu sering membandingkan hidupnya dengan orang lain yang terlihat sempurna.

Seperti biasanya, Sophie Kinsella mempresentasikan buku ini dengan ringan, lucu, dan penuh pemahaman akan isu yang dialami audiensnya yang pada umumnya berkisar umur 20-30 tahun.

Sejak kalimat pertama dalam bukunya, pembaca akan diseret dalam cerita milik Sophie Kinsella. Kalimat pertama Kinsella dalam setiap novelnya selalu menjadi ciri khas yang mencolok, dan merupakan bagian yang paling saya sukai. Ia selalu menggambarkan situasi yang mendesak pada kalimat pertama novel-novelnya, membuat pembaca didorong rasa penasaran yang besar untuk menggali ceritanya. Sangat cerdas.

Cerita dalam buku ini adalah cerita sederhana, penuh humor, namun juga manis. Namun, lebih dari itu, Sophie Kinsella mampu menyampaikan suatu pesan penting yang berguna bagi para penggemarnya. Melalui cerita ini, ia mencoba menjawab dan memberikan nasihat bagi para perempuan di dunia.

 

Berikut sedikit sinopsisnya!

Katie Brenner terlihat memiliki hidup yang sempurna. Ia tinggal di apartemen di London, punya pekerjaan bergengsi, dan feed Instagram yang menarik dan berkelas.

Tapi kenyataannya, ia menyewa apartemen tanpa ruang untuk lemari baju, setiap hari menempuh jarak jauh dan berdesakan di kereta demi mencapai kantor di mana ia hanya mengerjakan pekerjaan administrasi sepele, dan foto-foto Instagram yang dia upload di Instagram bukanlah dari hidupnya. Tapi, suatu hari, mimpinya pasti akan menjadi nyata….kan?

Animal Farm – George Orwell

Rating: 3.6 out of 5

All animals are equal, but some animals are more equal than others.

Animal Farm (2)

Review in English:

Dear a busy person,

Dear not-a-book person,

 

You CAN read this.

 

Well, I want to present you this thin, yet interesting book review!

Even though your effort to read this will be minimum, you can boast it in front of your friends, dear readers! Hahahaha

There is something incredibly metaphorical in the story of this book. Somehow I found it as a way to criticizing the government nowadays, and the society.

This is not a story about humans. It is 100% story about animals. Smart animals. That turns the table on cruel humans. The thing is, as I read this book, more and more it reminded me of my own country, Indonesia. How it feels like trying to tell the story of colonialization and the development of a civilization. It looks like a simple story, but the conflicts, the character build up is truly smart and captivating.

I didn’t expect to find such depth on such thin book. But I did indeed. However, I do think that the person’s background may affect on how they will understand the story, like I said, because it is very metaphorical. If you read it just as it is, I am sure it wouldn’t left a deep thinking on your thoughts, but if you try to connect it with something, the story feels so much more impactful.

The one thing I am not fully satisfied is maybe the ending, but it wasn’t because it was a bad ending, it’s just something that I didn’t expect. But I won’t spoil it for you, would I?

 Here’s a little preview from the back of the book!

Mr. Jones of Manor Farm is so lazy and drunken that one day he forgets to feed his livestock. The ensuing rebellion under the leadership of the pigs Napoleon and Snowball leads to the animals taking over the farm. Vowing to eliminate the terrible inequities of the farmyard, the renamed Animal Farm is organized to benefit all who walk on four legs. But as time passes, the ideals of the rebellion are corrupted, then forgotten. And something new and unexpected emerges…..

 Animal Farm (1)

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Untuk kalian yang terlalu sibuk,

Untuk kalian yang tidak suka membaca,

 

Kalian BISA BANGET baca buku ini!

 

Hari ini aku ingin meresensi buku tipis yang menarik ini!

Walaupun usaha yang perlu kamu keluarkan untuk membaca buku ini minim, kamu bisa banget loh bangga sudah pernah membaca salah satu karya penulis legendaris ini!

Ada sesuatu yang implisit tersembunyi di balik cerita buku ini. Ada kesan bahwa suatu kritik terhadap masyarakat dan pemerintah sedang disampaikan melalui ceritanya.

Cerita ini 100% tentang hewan. Peran manusia ada, namun bukanlah sorotan utama. Ini tentang hewan-hewan cerdas yang melakukan reformasi terhadap manusia dan hidupnya.

Karena satu dan lain hal, cerita ini mengingatkanku tentang Indonesia. Eratnya kaitan cerita ini dengan penjajahan dan perkembangan suatu peradaban meninggalkan suatu kesan yang dalam. Unsur metafor, konflik, dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya sangat menakjubkan untuk dibaca.

Pada awalnya, aku sama sekali tidak berekspektasi untuk menemukan suatu makna dan pemikiran yang dalam saat membaca buku yang begini tipis. Namun memang, menurutku, latar belakang seorang pembaca akan berpengaruh besar dalam bagaimana kesan yang akan ditinggalkan oleh buku ini. Jika buku ini hanya dibaca begitu saja, tentu rasanya seperti cerita-cerita lain pada umumnya, namun kalau kalian bisa mendeteksi makna dan menganalisis pesan dari buku ini, ia dapat meninggalkan kesan yang bermakna.

Mungkin satu hal yang aku tidak sepenuhnya puas adalah akhir dari ceritanya. Bukan karena akhir cerita ini buruk, tapi di luar ekspektasiku. Tapi tenang, akhir ceritanya nggak akan aku bocorin, kok 😀

Berikut sinopsis dari buku Animal Farm!

Tuan Jones, pemilik dari Manor Farm adalah seorang pemalas dan pemabuk. Pada suatu hari, berkat kebiasaan jeleknya, ia lupa memberi makan ternak-ternaknya. Dua ekor babi bernama Napoleon dan Snowball mengambil peran pemimpin di antara hewan ternak lainnya, dan memimpin revolusi demi mengambil alih peternakan. Dengan sumpah untuk memusnahkan segala ketidaksetaraan dan menyejahterakan semua hewan, mereka mengubah nama peternakan menjadi Animal Farm. Namun seiring berjalannya waktu, idealisme revolusi terkontaminasi, lalu terlupakan. Dan hal-hal baru dan tak terduga pun bermunculan……

 

Sophie’s World – Jostein Gaarder

Rating: 4.9 out of 5

“We are the living planet, Sophie! We are the great vessel sailing around a burning sun in the universe. But each and every of us is also a ship sailing through life through a cargo of genes. When we have carried this cargo safely to the next harbor – we have not lived in vain…”

Sophie's World (4)

Review in English:

So far, this is the highest rating I have given for a book.

 It’s a new year, and I think we deserve a great start, aren’t we?  

I know it’s a bit late for the first review on 2018, but it’s 31st January here, and I am still posting this on the first month (hopefully)!

 Honestly, I really do not want to spoil this book for you, and I am currently carefully typing, choosing the right words on how to convey the message to you on how mind blowing this book is for me.

What do you know about history of mankind?

Have you learned Biology? Chemistry? Literature? Arts? Math? Psychology? Theatre, maybe?

Do you have certain faith? Religion? Any kinds of believes?

Well, I have. I remembered of being forced by my teachers to remember all these things since I was little, and while living my life, I stumbled into several fields where I get to know the famous names and heard about their famous master pieces, here and there.

 Nevertheless, I know I have all these information in my head, scattered, or maybe saved in different parts of the brain, each stored neatly in their own boxes. Maybe Darwin in Biology, Shakespeare in Literature, Samuel Beckett in Theatre, Lamarck in Math, and so on.  I never knew how these people connected, how their idealism mixed, how they founded their works, and how their works affects or being affected by the society surroundings…

 But this book……

Oh My God, this book.

 Reading this book feels like it’s creating a map through my brain, my life, even. All the information stored deep in my brain back when I was in elementary school is being mapped all to the present me. 

 All the questions about life, people, and all the why’s I tried to forget when I was in teenager, questions about religion, too, are being answered by this book. However, indeed it could be just me, maybe you wouldn’t as inspired as I am – let us not forget that possibility – but I still think this is a book you have to read at least once in your life. And for those of you who are afraid reading something philosophical would shake your faith, I can’t guarantee anything, but for me, it reaffirms my faith. Moreover, it opens my mind on what the real meaning of religion is, and how closed minded I have been on understanding the concept of ‘God’. A little trivia, but this book has made me realize that society ‘humanize’ God so much.

Maybe it will take a long time to read (I took around 2.5 months to finish and comprehend it), as you would need to absorb it slowly, and stop from time to time and discuss it with people you trust with. Anyway, if you want some discussion, I would be ecstatic to discuss this book with you!

 Here’s a lil preview:

When 14 year old Sophie encounters a mysterious mentor who introduces her to philosophy, mysteries deepen in her own life. Why does she keep getting postcards addressed to another girl? Who is the other girl? And who, for that matter, is Sophie herself? To solve the riddle, she uses her new knowledge of philosophy, but the truth is far stranger than she could have imagined.

 Sophie's World (5)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Sejauh ini, ini adalah buku pertama yang aku beri nilai tertinggi dalam membuat resensi.

Untuk awal tahun yang baik, pantas kan untuk membaca buku yang luar biasa juga?

Maaf yaa agak terlambat dalam mengirim review buku baru di tahun 2018 ini! Tapi karena masih tanggal 31 Januari, semoga masih bisa terhitung menyambut tahun baru!

Sebenarnya sulit sekali untuk membuat resensi buku ini, karena aku tidak ingin membocorkan ceritanya maupun topik-topik buku ini, yang bagiku bahkan tidak tergambarkan kata-kata. Jadi aku akan membuat resensi ini dengan sangat hati-hati hahaha.

Apa yang kamu tahu tentang sejarah kemanusiaan?

Pernahkah kamu belajar Biologi? Kimia? Sastra? Seni? Matematika? Psikologi? Seni Teater, mungkin?

Apakah kamu memiliki suatu kepercayaan? Agama? Atau apa pun itu bagimu?

Kebetulan, aku punya.

Sedari kecil, kita selalu terbiasa dengan dipaksa untuk mengingat pelajaran dan teori-teorinya, dan semasa hidup kita, mungkin kita mencoba lebih dari 1 bidang di mana kita punya kesempatan untuk menggelutinya. Saat mempelajari bidang/pelajaran itu, pastilah kamu mengenal nama-nama orang yang berpengaruh di bidangnya, penemuan-penemuannya, teori-teorinya. Tapi apakah nama-nama itu saling berkaitan satu sama lain? Kalau iya, di mana kah mereka berkaitan? Dalam otakku, setiap nama-nama dan teori seakan terkotak-kotak ke bidangnya masing-masing, misalnya Darwin di Biologi, Newton di Fisika, Shakespeare dalam Sastra, dst.

Tapi buku ini….

Buku ini seakan membuat peta dalam otakku, bagaimana hal-hal dan nama-nama yang kupelajari sewaktu kecil berkaitan, di mana filosofi dan idealisme mereka bersinggungan, bertentangan, atau bergandengan. Bagaimana teori mereka lebih dari sekedar perhitungan matematis atau karya seni yang luar biasa, tapi bagaimana karya mereka berkontribusi dalam sejarah kemanusiaan. Di mana peran dari temuan-temuan mereka, bagaimana pola pikir orang-orang berpengaruh ini membentuk dan menggambarkan era di mana mereka hidup.

Semua pertanyaan tentang hidup, tentang manusia, bahkan tentang agama, yang kumiliki sejak lama, secara langsung dan tidak langsung terjawab berkat buku ini. Semua pertanyaan ‘kenapa’ yang sering kali kusimpan rapat-rapat dijabarkan secara logis dan empatik dalam buku ini.

Tapi mungkin, mengutip buku Dunia Sophie ini, “Kita mengambil peran yang penting dalam menentukan apa yang kita tuju dengan memilih apa yang penting bagi kita”, kesanmu pada buku ini mungkin tidak sama dengan kesanku, perbedaan pengalaman hidup, ketertarikan, dan Bahasa mungkin akan sangat berpengaruh. Tapi bagaimana pun juga, buku ini tetap kurekomendasikan untuk dibaca paling tidak sekali seumur hidup.

Untuk kalian yang takut bahwa buku bertema filosofi akan mengguncang iman, walau mungkin berbeda bagi setiap orang, dalam kasusku, aku hanya merasa semakin kuat pada kepercayaanku. Justru buku ini membuka pikiranku tentang arti dari agama itu sendiri, dan betapa sempit selama ini pemahaman kita tentang konsep Tuhan. Di satu titik, aku menyadari bahwa selama ini kebanyakan manusia ‘memanusiakan’ Tuhan sedemikian rupa.

Apa pun itu, silakan coba baca buku ini! Mungkin butuh waktu, karena tidak mudah untuk mencerna buku ini (aku pun butuh waktu sekitar 2,5 bulan untuk menyelesaikan buku ini), dan akan sangat baik bila diiringi dengan diskusi dengan orang yang terpercaya, sehingga ide-idenya akan terangkum dengan lebih baik lagi. Kalau kalian ingin berdiskusi tentang buku ini, aku dengan senang hati menemani!

Berikut cuplikannya:

Sophie yang berumur 14 tahun tiba-tiba mendapati dirinya mempunyai seorang mentor misterius yang mengenalkannya pada filosofi. Berbagai misteri terus memenuhi hidupnya, mengapa dia selalu mendapat kartu pos yang dialamatkan untuk gadis lain? Siapa gadis itu? Tapi yang lebih penting, siapakah seorang ‘Sophie’? Demi memecahkan teka-teki ini, Sophie menggunakan pengetahuan barunya tentang filosofi, namun kenyataan yang ia temukan justru lebih aneh dari yang mampu ia bayangkan.

PS: Terjemahan dari Sophie’s World dalam Bahasa Indonesia dapat ditemukan dengan judul Dunia Sophie, namun pendapatku pribadi, akan lebih baik untuk membaca versi Bahasa Inggrisnya!

 

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 – Pidi Baiq

Rating: 3.7 out of 5

“Jangan rindu. Ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja.”

Dilan (1)

Review in English:

Yeaaaayy it’s the last post of the year! Wow, I can’t believe I’ve been doing this for a year! Let’s hope next year will be even better! I hope you would have a good holiday too, and I’ve got a book that will be good for your vacation!

Who’s ready for some big slap of romanticism on your heart?  Hahaha

Well then you gotta read this book. This particular book is written by Pidi Baiq, and has been a big hit among the youngsters of Indonesia (so much it’s coming to theater very soon!), because it really is both funny and so so sweet. Incredibly nostalgic too, at least for me. The story sets background in Bandung city, in 1990. For a person that knows Bandung and been living there quite long, I have a beautiful rendezvous every time I read this.

Dilan is a story of a couple high schooler, from the perspective of Milea, the girl, she’ll tell you on how Dilan pursue her with such out-of-the-box acts and words. It is actually quite a simple story, common thing you would find anywhere. But the romance, the sweetness, it is something you may have forgotten long long ago. I also would recommend this book for any man who wants to learn what is a girl’s expectation of romantic, though I got to admit Dilan sets the bar quite high. Hahaha

Anyway, sorry though, I don’t think this book has been translated to English, so you got to read it in Indonesian.  Here’s a quick peep!

Milea has just moved to the city. She didn’t expect much from it. But it all changes when a motorcycle stops beside her one day, with a boy on it, saying some words that is both intriguing and weird. Then every time she meets him, he always has a new way to make her life exciting. His words and actions are funny and enticing.

“Milea, you are beautiful. But I am not in love with you yet. Maybe in the afternoon. Let’s see.”

Dilan (2)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Horeeee ini post terakhir untuk tahun ini! Wow, ga terasa udah setahun aja ya bikin resensi ini…semoga tahun depan bisa lebih baik dan lebih banyak lagi! Nah, karena sekarang sudah masuk musim liburan, selamat berlibuur! Untuk kalian yang sedang liburan, buku ini cocok nih dibawa dan dibaca mungkin dalam bis, kereta, pesawat…yang mana juga boleh! Oke, ini dia!

Apakah kamu sedang haus romantisme? Atau sedang butuh inspirasi cara menjadi romantis?

Mungkin kamu butuh buku ini. Buku ini ditulis oleh Pidi Baiq, dan dalam sekejap meraih popularitas yang luar biasa, sampai-sampai dibuat menjadi film yang akan diluncurkan tidak lama lagi! Cerita Dilan sangat manis dan lucu. Ceritanya juga mengandung unsur nostalgia, paling tidak buat saya, hehe. Latar dari cerita ini adalah Kota Bandung, di tahun 1990. Mau tidak mau, bagi orang-orang yang mengenal Bandung pastilah merasa begitu hanyut dalam ceritanya dan rindu kota ini.

Cerita dari buku Dilan sebenarnya cukup sederhana. ‘Hanya’ cerita tentang sepasang remaja yang saling jatuh cinta. Cerita ini dilihat dari sudut pandang Milea, dan bagaimana dia melihat Dilan dan segala kelucuannya dalam proses PDKT. Walaupun sederhana, ada nuansa tertentu yang membuat novel ini begitu menarik, mengingatkan kita akan keluguan dan manisnya cerita cinta semasa sekolah.  Saya pribadi merekomendasikan buku ini bagi para laki-laki yang ingin belajar tentang romantisme, walaupun standar Dilan sebenarnya cukup tinggi, hahaha.

Berikut sedikit cuplikannya!

Milea adalah anak pindahan baru, dan ia tidak berekspektasi apa-apa. Namun suatu hari dalam perjalanannya menuju sekolah, sebuah motor berhenti di sebelahnya, lalu seorang cowok yang mengendarainya mengucapkan sesuatu yang sangat aneh, namun membuat Milea penasaran. Setelahnya pun, Milea terus bertemu dengannya, dan selalu ada hal-hal yang dilakukannya yang membuat hidup Milea jadi menarik.

“Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.”

 

 

Madre – Dee

Rating: 4.0 out of 5

“Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban”

Madre (3)

Review in English:

Hi! Most of you may have known Dewi Lestari aka Dee as one of Indonesia famous author. If you remember or have read it, I actually reviewed one of her best work, which is Supernova. However, over the years, Dee actually has written several compilations of short stories, and Madre is one of them. Personally, compared to her novels, I always love her short stories book rather than the novel, it’s never been disappointing.

Madre consist of 13 short beautiful stories that I’m sure will touch your heart and makes you think about the meaning of human relations. But the first story is particularly captivating, as it is about..wait for it….Bread. Who knows a story about bread could be this good?? Well, only Dee that can portrays brilliantly the conversations in someone’s mind, describe such simple things to become so rich and vivid, complex things such as real behavior of real people and how imperfect people is. She balances the beauty and the pain between lovers, friends, even teacher and students. Personally, for me, the stories stir a lot of feeling in my heart. It is astonishingly well written, and the issues are commonly found yet at the same time very unique.

It expands your mind, as well as expanding your knowledge. Dee helps you to broaden your mind and perspective on many things, slowly, patiently, like a mother teaching her daughter.

Here’s the preview of one of the story!

“How does it feel if your history changes in a day?”

I am suddenly a quarter of Tionghoa, my grandma is apparently a baker, and she, with a grandpa I have never known, inherited a new family member I also have never heard of before: Madre.

Madre (1)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Dalam dunia sastra Indonesia, Siapa yang tidak kenal Dewi Lestari aka Dee? Kemarin dulu saya pernah membuat resensi tentang salah satu novel seri nya, yaitu Supernova. Namun sebenarnya selama ini, Dee sudah menulis beberapa kumpulan cerita pendeknya, dan Madre ini lah salah satunya! Untuk saya, cerita-cerita pendek Dee lebih menyentuh dibanding novel-novelnya. Cerita-ceritanya membuat saya banyak bertanya-tanya dan melakukan refleksi tentang hubungan saya dan manusia-manusia lain.

Madre terdiri dari 13 cerita dan puisi pendek, namun cerita pertamanya sangat unik dan menarik. Topik yang diangkatnya sangat sederhana dan janggal, namun ternyata amat menarik, yaitu roti. Siapa menyangka sepotong roti mampu membangun cerita yang begitu dalam dan detail? Begitulah Dee, mampu mendeskripsikan dan mengangkat topik begitu pintar sehingga selalu terasa bermakna. Dalam buku ini, Dee juga mengangkat banyak cerita tentang dinamika persahabatan dan percintaan. 2 hal yang seringkali hanya dibatasi benang yang tipis, dan entah di mana batas itu. Namun kisah yang begitu umum mampu Dee dalami dan olah sehingga terasa sangat kaya.

Dee mampu mengangkat suatu topik, memperluasnya, sekaligus menjabarkan dengan indah dan memperluas pemikiran dan pemahaman kita tentang suatu objek atau isu, dengan sabar dan perlahan, seperti Ibu bercerita pada anaknya.

Berikut cuplikan dari cerita pertama dalam Madre!

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?

Darah saya mendadak seperempatTionghoa,

Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,

Bersama kakek yang tidak saya kenal,

Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”