Sophie’s World – Jostein Gaarder

Rating: 4.9 out of 5

“We are the living planet, Sophie! We are the great vessel sailing around a burning sun in the universe. But each and every of us is also a ship sailing through life through a cargo of genes. When we have carried this cargo safely to the next harbor – we have not lived in vain…”

Sophie's World (4)

Review in English:

So far, this is the highest rating I have given for a book.

 It’s a new year, and I think we deserve a great start, aren’t we?  

I know it’s a bit late for the first review on 2018, but it’s 31st January here, and I am still posting this on the first month (hopefully)!

 Honestly, I really do not want to spoil this book for you, and I am currently carefully typing, choosing the right words on how to convey the message to you on how mind blowing this book is for me.

What do you know about history of mankind?

Have you learned Biology? Chemistry? Literature? Arts? Math? Psychology? Theatre, maybe?

Do you have certain faith? Religion? Any kinds of believes?

Well, I have. I remembered of being forced by my teachers to remember all these things since I was little, and while living my life, I stumbled into several fields where I get to know the famous names and heard about their famous master pieces, here and there.

 Nevertheless, I know I have all these information in my head, scattered, or maybe saved in different parts of the brain, each stored neatly in their own boxes. Maybe Darwin in Biology, Shakespeare in Literature, Samuel Beckett in Theatre, Lamarck in Math, and so on.  I never knew how these people connected, how their idealism mixed, how they founded their works, and how their works affects or being affected by the society surroundings…

 But this book……

Oh My God, this book.

 Reading this book feels like it’s creating a map through my brain, my life, even. All the information stored deep in my brain back when I was in elementary school is being mapped all to the present me. 

 All the questions about life, people, and all the why’s I tried to forget when I was in teenager, questions about religion, too, are being answered by this book. However, indeed it could be just me, maybe you wouldn’t as inspired as I am – let us not forget that possibility – but I still think this is a book you have to read at least once in your life. And for those of you who are afraid reading something philosophical would shake your faith, I can’t guarantee anything, but for me, it reaffirms my faith. Moreover, it opens my mind on what the real meaning of religion is, and how closed minded I have been on understanding the concept of ‘God’. A little trivia, but this book has made me realize that society ‘humanize’ God so much.

Maybe it will take a long time to read (I took around 2.5 months to finish and comprehend it), as you would need to absorb it slowly, and stop from time to time and discuss it with people you trust with. Anyway, if you want some discussion, I would be ecstatic to discuss this book with you!

 Here’s a lil preview:

When 14 year old Sophie encounters a mysterious mentor who introduces her to philosophy, mysteries deepen in her own life. Why does she keep getting postcards addressed to another girl? Who is the other girl? And who, for that matter, is Sophie herself? To solve the riddle, she uses her new knowledge of philosophy, but the truth is far stranger than she could have imagined.

 Sophie's World (5)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Sejauh ini, ini adalah buku pertama yang aku beri nilai tertinggi dalam membuat resensi.

Untuk awal tahun yang baik, pantas kan untuk membaca buku yang luar biasa juga?

Maaf yaa agak terlambat dalam mengirim review buku baru di tahun 2018 ini! Tapi karena masih tanggal 31 Januari, semoga masih bisa terhitung menyambut tahun baru!

Sebenarnya sulit sekali untuk membuat resensi buku ini, karena aku tidak ingin membocorkan ceritanya maupun topik-topik buku ini, yang bagiku bahkan tidak tergambarkan kata-kata. Jadi aku akan membuat resensi ini dengan sangat hati-hati hahaha.

Apa yang kamu tahu tentang sejarah kemanusiaan?

Pernahkah kamu belajar Biologi? Kimia? Sastra? Seni? Matematika? Psikologi? Seni Teater, mungkin?

Apakah kamu memiliki suatu kepercayaan? Agama? Atau apa pun itu bagimu?

Kebetulan, aku punya.

Sedari kecil, kita selalu terbiasa dengan dipaksa untuk mengingat pelajaran dan teori-teorinya, dan semasa hidup kita, mungkin kita mencoba lebih dari 1 bidang di mana kita punya kesempatan untuk menggelutinya. Saat mempelajari bidang/pelajaran itu, pastilah kamu mengenal nama-nama orang yang berpengaruh di bidangnya, penemuan-penemuannya, teori-teorinya. Tapi apakah nama-nama itu saling berkaitan satu sama lain? Kalau iya, di mana kah mereka berkaitan? Dalam otakku, setiap nama-nama dan teori seakan terkotak-kotak ke bidangnya masing-masing, misalnya Darwin di Biologi, Newton di Fisika, Shakespeare dalam Sastra, dst.

Tapi buku ini….

Buku ini seakan membuat peta dalam otakku, bagaimana hal-hal dan nama-nama yang kupelajari sewaktu kecil berkaitan, di mana filosofi dan idealisme mereka bersinggungan, bertentangan, atau bergandengan. Bagaimana teori mereka lebih dari sekedar perhitungan matematis atau karya seni yang luar biasa, tapi bagaimana karya mereka berkontribusi dalam sejarah kemanusiaan. Di mana peran dari temuan-temuan mereka, bagaimana pola pikir orang-orang berpengaruh ini membentuk dan menggambarkan era di mana mereka hidup.

Semua pertanyaan tentang hidup, tentang manusia, bahkan tentang agama, yang kumiliki sejak lama, secara langsung dan tidak langsung terjawab berkat buku ini. Semua pertanyaan ‘kenapa’ yang sering kali kusimpan rapat-rapat dijabarkan secara logis dan empatik dalam buku ini.

Tapi mungkin, mengutip buku Dunia Sophie ini, “Kita mengambil peran yang penting dalam menentukan apa yang kita tuju dengan memilih apa yang penting bagi kita”, kesanmu pada buku ini mungkin tidak sama dengan kesanku, perbedaan pengalaman hidup, ketertarikan, dan Bahasa mungkin akan sangat berpengaruh. Tapi bagaimana pun juga, buku ini tetap kurekomendasikan untuk dibaca paling tidak sekali seumur hidup.

Untuk kalian yang takut bahwa buku bertema filosofi akan mengguncang iman, walau mungkin berbeda bagi setiap orang, dalam kasusku, aku hanya merasa semakin kuat pada kepercayaanku. Justru buku ini membuka pikiranku tentang arti dari agama itu sendiri, dan betapa sempit selama ini pemahaman kita tentang konsep Tuhan. Di satu titik, aku menyadari bahwa selama ini kebanyakan manusia ‘memanusiakan’ Tuhan sedemikian rupa.

Apa pun itu, silakan coba baca buku ini! Mungkin butuh waktu, karena tidak mudah untuk mencerna buku ini (aku pun butuh waktu sekitar 2,5 bulan untuk menyelesaikan buku ini), dan akan sangat baik bila diiringi dengan diskusi dengan orang yang terpercaya, sehingga ide-idenya akan terangkum dengan lebih baik lagi. Kalau kalian ingin berdiskusi tentang buku ini, aku dengan senang hati menemani!

Berikut cuplikannya:

Sophie yang berumur 14 tahun tiba-tiba mendapati dirinya mempunyai seorang mentor misterius yang mengenalkannya pada filosofi. Berbagai misteri terus memenuhi hidupnya, mengapa dia selalu mendapat kartu pos yang dialamatkan untuk gadis lain? Siapa gadis itu? Tapi yang lebih penting, siapakah seorang ‘Sophie’? Demi memecahkan teka-teki ini, Sophie menggunakan pengetahuan barunya tentang filosofi, namun kenyataan yang ia temukan justru lebih aneh dari yang mampu ia bayangkan.

PS: Terjemahan dari Sophie’s World dalam Bahasa Indonesia dapat ditemukan dengan judul Dunia Sophie, namun pendapatku pribadi, akan lebih baik untuk membaca versi Bahasa Inggrisnya!

 

Advertisements

The Harsh Cry of The Heron – Lian Hearn

Rating: 4.2 out of 5

“…and I fear far more…for my children, and my wife, and for my land and people.”

Harsh Cry of The Heron (2)

Review in English:

Do any of you still remember Otori Trilogy? Do any of you wonder, what happen then? Will Takeo’s reign last forever?

Well, here’s a book who will answer all those questions. The Harsh Cry of The Heron, a story that sets 16 years later, the time when after years and years of peace and happiness, that balance may finally be shaken.

Personally, reading this book has made me feel so conflicted. The story keeps growing on you, makes it impossible to put down. The conflicts getting thicker and thicker on each chapter, and as we all love Takeo so much, the readers will have drawn into emotion deeper and deeper, following his sorrow, his dreams, and his desperation.

Yeah….this is not the story of heroes, this is the story of defending the peace. Something, that apparently, couldn’t last forever. Well, without further a due, I’ll present you the preview:

Takeo and Kaede have successfully spreading and maintaining the peace of Three Countries for 16 years. They have 3 kids, and all girls. Shigeko, the oldest, and her sister, the twins, Maya and Miki. Takeo and Kaede rule the country as equal, creating a merger between masculinity and femininity. However, they can never run from the wheel of fate. Old secrets surfacing, revenge lurking closer and closer, and heart break turns into betrayal. Although Heaven gives all signs that it blesses Takeo, Heaven’s net is wide, and will Takeo sustain it, or will he forced to roll under the wheel?

Harsh Cry of The Heron (1)

Resensi dalam Bahasa (edited):

Kata orang, akhir hanyalah awal yang baru, begitu juga dengan kisah Klan Otori!

Akhir cerita Otori di Brilliance of The Moon memang sudah menutup satu babak panjang perjuangan Takeo dan Kaede, tapi pertanyaan-pertanyaan bermunculan, “Apa yang terjadi setelah itu?”

The Harsh Cry Of The Heron menceritakan petualangan baru Takeo dan Kaede, 16 tahun setelah mereka pertama resmi memerintah Tiga Negara. Setelah berhasil membangun dan menyebarkan kedamaian, kali ini, kedamaian itu terusik dan roda nasib mulai berputar ke bawah.

Bagi yang sangat menyukai kisah-kisah Klan Otori, membaca buku ini akan menjadi suatu dilemma sendiri, karena ceritanya membawa begitu banyak konflik-konflik baru yang membuat buku ini sangat menarik dan sama sekali tidak kehilangan pesonanya. Kamu akan dibawa untuk menyelami emosi Takeo, kesedihannya, mimpinya, dan keresahannya.

The Harsh Cry of The Heron bukanlah cerita tentang heroisme, tapi cerita perjuangan mempertahankan kedamaian, yang sayangnya, tidak bisa abadi. Ini dia cuplikannya:

Takeo dan Kaede telah berhasil menyebarkan kedamaian di Tiga Negara, rakyat mencintainya, tingkat kesejahteraan naik dan terjaga berkat keahlian diplomatis pasangan ini. Takeo dan Kaede menggabungkan dua unsur maskulin dan feminin dengan sempurna, memerintah secara setara dan saling mendukung. Takeo dikaruniai 3 anak perempuan, yaitu Shigeko si sulung, dan dua adik kembarnya, Maya dan Miki. Namun mereka tidak bisa lari dari kejaran nasib, dan roda mulai berputar turun. Rahasia-rahasia lama naik permukaan, dendam yang terkubur mendekat mengintai, dan kisah patah hati menjadi pengkhianatan. Mampukah Takeo mempertahankan kedamaian dengan restu Surga, ataukah ia dipaksa untuk tergulung roda nasib?

 

Brilliance of The Moon – Lian Hearn

Rating: 3.8 out of 5

“It’s like a spell. It’s so strong I can’t fight it. Is love always like this?”

Processed with VSCO with c1 preset

Review in English:

Good day, book addicts! Remember Takeo of Otori Trilogy?

Well, we finally have the last book here! And I will surely give you the sneak peek!

This book will probably surprise you in the matter of changes in the pace of plot. As the book before is kind of slow-pace, this book will be different. Brilliance of The Moon will be full of events, wars, and unexpected circumstances.

By the end of Grass for His Pillow (the second book), us readers were left to believe that everything will be okay, which later in this book you will find out it’s not. There are still so many enemies to defeat, inevitable conflicts, collisions, and political frictions. Suddenly, there are a lot of things going on. You’ll be hopeful and desperate both at the same time. Someway along the story, you too, will question whether their decision was the right one.

Okay okay…I’ll just give you a little preview:

After their reunion in Terayama, Takeo and Kaede realized the wars upon them that they and the rest of the Three Countries have to bear because of their actions. Together this time, they unite their powers and try to put an end to their enemies, and bring back peace. But first of all, they need armies. They begin their long road to Maruyama, claiming Kaede’s rights, only to find them facing the siblings of their old nemesis blocking them. And it doesn’t stop there…..

otori-trilogy

Resensi dalam Bahasa:

Selamat malam! Masih penasaran dengan kelanjutan Trilogi Otori?

Yap, ini dia buku terakhirnya, dan sedikit kisi-kisinya! Hehehe…

Buku terakhir ini akan sedikit berbeda dari buku sebelumnya, dan yang paling terasa adalah perubahan dari kecepatan dalam alur ceritanya. Di buku Grass for His Pillow, tempo dari alurnya cukup lambat dan detail. Namun di buku ini, justru alur cerita menjadi cepat dan ada begitu banyak kejadian, konflik, perang, dan kejutan-kejutan.

Awalnya, mungkin setelah membaca Grass for His Pillow, kita mungkin mengira yang harus mereka hadapi sekarang hanya tinggal musuh-musuhnya, namun dengan situasi Takeo dan Kaede yang sudah jauh lebih pasti. Nyatanya, dalam buku ini ikatan Takeo dan Kaede akan tetap diuji, dan bahkan pembaca pun akan dibuat terlarut dan mempertanyakan lagi apakah keputusan mereka sudah benar di setiap langkahnya. Yang jelas, buku terakhir ini masih mengaduk emosi deh!

Oke..untuk cuplikannya sebagai berikut:

Setelah pertemuan dan persatuan Takeo dan Kaede di Biara Terayama, mereka berdua menyadari konflik dan tantangan yang harus mereka hadapi akibat dari keputusan-keputusan mereka. Namun dengan tekad kuat untuk tetap bersama, Takeo dan Kaede sepakat menyatukan kekuatan dan menghadapi musuh-musuhnya, dimulai dengan mengumpulkan pasukan. Mereka memulai perjalanan dan berderap menuju Maruyama, menuntut kembali hak resmi Kaede, dan menghimpun kekuatan. Namun mereka dengan segera harus menghadapi pertempuran, lagi dan lagi, semakin lama semakin besar pertaruhannya…

 

 

Pulang – Leila S. Chudori

Rating: 4.8 out of 5

Ayah adalah seorang Ekalaya. Dia ditolak tapi dia akan bertahan meski setiap langkahnya penuh jejak darah dan luka”

pulang-2

Review in English:

Now here is a book of your bucket list. Yes. If you claim yourself to be a booklover, bookworm, or whatever terms you may like, this is a must-to-read. Well, this is an Indonesian novel, nevertheless, you can find the translated one as ‘Home’.

‘Home’ is very deeply rooted on Indonesian darkest history. The background story it takes is so wonderful, it touches many sensitive topics. The novel is plastered with Indonesia’s culture, history, myth, and many unique things about Indonesia. It brings up G30SPKI, the times of massive massacre of people who are accused related in any way with PKI, the communist party, as its background. Since this is a two generation story, it will also take the background of Soeharto’s (2nd President of Indonesia) overthrow in 1998 just as important to the story as G30SPKI. ‘Home’ is also promoting Indonesian culture; it brings Wayang (Indonesian ethnic puppets) and Indonesian food as a major part of the story. You can smell, hear, and see Indonesia so clearly by reading ‘Home’. No doubt of it being awarded of Khatulistiwa Literary.

This is about a man. A man who fascinated by many things; different political views, books and poems, women, foods. A man who set sail, and can never anchored down. A man who faces his fascination to become both curse and blessing to his life. A man whom the wind of life has blown away from his path, to the point of him is being stamped as ‘politic exile’. He was rejected by his own country, forced to live abroad and build a new life.

This is about a young woman. A woman in conflict with her father. Her beloved father, that always supports her, yet becomes bitter of a particular choice of hers. A woman with two histories running on her blood. A Parisian, with one other home country across the world that she has never visited. A woman with one problem upon her life: how to graduate from Sorbonne. One that she doesn’t know, is how that simple things would lead her to a series of outrageous events.

Processed with VSCO with g3 preset

Resensi dalam Bahasa:

Hai!!

Aku punya pertanyaan. Sejauh mana kamu mengenal I.N.D.O.N.E.S.I.A?

Kalau kamu nggak bisa menjawab pertanyaan ini, mungkin kamu bisa mendapatkannya dari buku ini. Buku ‘Pulang’ karya Leila S. Chudori adalah buku yang memenangkan penghargaan Kusala Khatulistiwa Sastra bukan karena keberuntungan, tapi jelas karena kedalaman kualitas dari buku ini. Buku ini ditulis untuk memuaskan rasa haus kamu tentang sejarah Indonesia, terutama masa-masa tergelapnya.

Novel ini mengambil latar beberapa kejadian bersejarah di Indonesia, yaitu peristiwa G30SPKI, Supersemar, Demonstrasi Prancis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan turunnya Presiden Soeharto pada tahun 1998. Melalui buku ini, gambaran kejadian-kejadian bersejarah itu akan terasa lebih nyata dan ‘berdarah’ secara asli. Banyak informasi yang diungkapkan oleh buku ini, kepingan-kepingan fakta yang bercampur dengan fiksi. Selain itu, novel ini memiliki ‘wangi’ Indonesia yang pekat. Budaya Indonesia begitu kental diulas dan menjadi bagian-bagian vital dalam ceritanya, seperti Wayang dan kuliner Indonesia. Novel ini selalu menjadi rekomendasiku pada siapa pun yang suka membaca.

Buku ini menjabarkan tentang seorang laki-laki. Seorang wartawan. Seorang bujangan. Seorang suami. Seorang Ayah. Seorang laki-laki yang tertarik pada politik, dan menghargai semua paham. Seorang laki-laki yang tahu bagaimana menjadi seorang teman yang baik, walau ia tidak yakin bagaimana menjadi pasangan yang baik. Ia terombang ambing dalam hidupnya yang didasarkan filosofi ‘berlayar’, sampai angin kemudian membawanya ke tanah baru. Ditolak tanah airnya, dan mendapat panggilan ‘Tapol’ (Tahanan Politik).

Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan. Seorang anak. Seorang mahasiswa. Seorang perempuan Eropa, namun dengan darah yang tercampur bau kemangi dan kunyit, Indonesia. Seorang mahasiswa tingkat akhir Sorbonne yang berjuang untuk lulus. Seorang putri yang bertengkar dengan ayahnya. Seorang anak mencoba mengerti ayahnya, berdasar pada pemahaman anak kecil yang terbatas. Seorang blasteran, mencoba memetik I.N.D.O.N.E.S.I.A.

 

The Other Boleyn Girl – Philippa Gregory

Rating: 4.0 out of 5

“It is luck to love someone who is free to love you in return.”

the-other-boleyn-girl-1

Review in English:

I love this quote from The Other Boleyn Girl here. It describes the book perfectly, which mostly elaborates the pain in loving someone in such complicated political fiasco. This is a historical novel, but this time, we take England history.

It’s particularly taking us into women’s perspective in love and desire, and how it was being used for politics. This book bring up a topic of gender inequality, to the times where women basically being barred from having their own life, their own will, and being used by the family, having no voice whatsoever.

It was so hard for me to put the book down, because the plot’s flow is really rapid in taking its peak and finding a new conflict. Reading it makes you feel restless, the characters’ lives never on ease, there is always an issue lurking on the corner.

Okay, here’s a little preview:

Mary Boleyn comes to court not knowing her charm is attracting the attention of The King himself. Everything and everyone in her family flaunt her and clear her path to be the girl for The King. For a moment, she is lost in happiness, not realizing the wind started to change, and her position is far from permanent. Who is the person that will force her to step down? And how the court will stir up?

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Kutipan di atas menggambarkan buku The Other Boleyn dalam satu kalimat sederhana, di mana konflik dalam buku ini terfokus pada rasa sakit dan perjuangan yang ditempuh untuk mencintai seseorang di tengah konflik politik kerajaan yang rumit. Novel ini salah satu dari tipe novel historis, khususnya sejarah Kerajaan Inggris di era Tudor.

Buku ini membawa kita pada perspektif seorang wanita berdarah biru dengan pandangan-pandangan spesifiknya mengenai cinta dan nafsu.  Di samping itu, novel ini menyorot masalah absennya kesetaraan gender dalam kentalnya budaya kerajaan Inggris pada era tersebut. Bagaimana perempuan tidak diperbolehkan memilih hidupnya sendiri, dijadikan pion demi kedudukan dan reputasi keluarga. Tentu saja, hal ini masih terjadi sampai sekarang, kan?

Hampir mustahil untuk meninggalkan buku ini setelah memulai membacanya, karena alur plot nya yang cepat dan fluktuatif dengan cara yang sangat luar biasa. Hampir tidak ada jeda di mana cerita tidak memiliki konflik, karena selalu ada masalah ditampilkan oleh penulis yang kemudian menjadi bibit koinflik berikutnya.

Berikut sinopsisnya:

Tiba waktunya Mary Boleyn untuk ikut terlibat dan tinggal di istana. Namun yang tidak disadarinya adalah pesonanya yang berkilau dan mampu menarik perhatian bahkan seorang Raja. Semua orang mendukung dirinya dan memastikan Mary dan Raja tidak terhalang untuk bersatu. Dan untuk sesaat, Mary bahagia. Ia lupa bahwa kebahagiaan tidak pernah bertahan lama dalam istana. Siapakah yang akhirnya mampu menyingkirkan Mary? Dan bagaimana kelanjutan kehidupan di Istana?

 

 

 

Grass for His Pillow – Lian Hearn

Rating: 3.5 out of 5

“It was as hot as ever, even the turn of the moon bringing no relief, and the cries of cicadas fell like showers around me.”

Processed with VSCO with f2 preset

Review in English:

Hi hi! Back with me again for the second book of Otori Trilogy!

Have you read the first one? Yes, the story is not over yet!

As for this second book, it will reveal even deeper on Japanese culture, and (pardon me) especially the downside of the culture. Grass for His Pillow is so full of sorrow, and painful love. Yet it teaches you a lot in how to truly love someone (seriously, though).

In this sequel, don’t expect a lot of Kaede (you must know her by now, right?) and Takeo’s intimacy stuff, no, on the contrary, most of the story are spent by them being separated. Personally though, I learned a lot and it gave me an understanding of real, yet true love. However, please expect a plot speed draw backs, because the story is now focusing more on each journey of Takeo’s and Kaede’s, and I personally think that the writer was trying to build up the desperation that the characters feel to readers. So in a way, you OUGHT to be desperate in reading the story. Haha!

Well, here is the preview:

Takeo and Kaede are forced to separate due to their roles in their clans. This time, they are trying to obey the clan’s will and follow the order. Takeo is being trained by Tribe, while Kaede finally coming home to his father. There, tortured by their surroundings and unfulfilled longing of meeting each other, they learn to be mature, facing the reality and the demand of the world around them.

Gras For His Pillow (2).jpg

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Hai haiii!

Sekarang giliran buku kedua dari Trilogi Otori!

Jadi sudah pada baca belum buku pertamanya? Grass for His Pillow ini lanjutannya, dan duh, ga bisa ga dibaca!

Jadi di buku kedua ini, budaya Jepang akan dikupas lebih dalam lagi, terutama sisi gelapnya. Buku ini kental dengan kesedihan, dan cinta yang sulit. Tapi, merupakan contoh yang baik untuk cinta yang nyata dan murni.

Di buku lanjutannya ini, jangan berekspektasi akan banyak cerita tentang keindahan cintanya Takeo dan Kaede (bbaca dulu buku pertamanya ya). Kebalikannya, cerita ini adalah tentang mereka yang terpisah. Positifnya menurutku, cerita ini mengajarkan banyak tentang cinta yang sebenarnya (cie). Nah, jangan heran kalau alur ceritanya jadi sedikit melambat, karena ceritanya yang fokus pada perjalanan masing-masing Takeo dan Kaede. Kemungkinan di sini penulis mencoba membangun suasana sedih dan nelangsa yang dirasakan tokoh-tokohnya sehingga dirasakan juga oleh pembaca. Haha!

OK, ini dia sedikit cuplikannya:

Setelah waktu sesaat yang dilalui bersama, Takeo dan Kaede harus berpisah untuk menjalankan perannya di klan masing-masing. Kali ini, mereka menyadari kelemahan dan tanggung jawab mereka, dan mengikuti perintah klan. Takeo dilatih oleh Tribe untuk mempertajam ilmunya, sedangkan Kaede akhirnya pulang menemui ayahnya dan tanggung jawabnya. Dalam jangka waktu lama, mereka tersiksa oleh orang-orang dan situasi yang tidak pernah mendukung kemauan mereka, dan juga tersiksa oleh pergolakan batin masing-masing untuk bertemu pasangannya. Namun di balik semua itu, baik Takeo maupun Kaede belajar menjadi dewasa, dan menghadapi dunia nyata dan tuntutannya.