Outliers – Malcolm Gladwell

Rating: 3.2 out of 5

Who we are cannot be separated from where we’re from”

Outliers (3)

Review in English:

Have you ever heard of the 10,000 hours theory?

Well here it is, Malcolm Gladwell, the author of Outliers is the one that came up with it! This book gives a more elaborate explanation on what seems to be the reasons behind most successful people and/or enterprise in this world.

It is a common knowledge that most of the successful people in the world are outliers. They found ideas that no one can, they work harder than anyone, they do someone else don’t. But are they, really? What distinct them of the others? Why there are 2 genius in this world, one goes nowhere and the other is the owner of multinational company? What is the reason?

This book will help you to discover a new perspective of these outliers. There are a lot of surprising facts behind it, stories that often be overlooked by people, the reasons of those successful people. However, I do feel some parts are keep being repeated and the stories are more related to those who have good understanding on Western’s history. However, the author also included and had a good peripheral perspective on Asian’s culture.

Nevertheless, once I read this book, I come to a new realization on what success really is, and what are the things that made the outliers, outliers. It is not without reason, surely. This book will help you to get a clear view on life’s backstage, and maybe, it will also help you to find your own stage. Have a good read!

Outliers

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Pernah dengar tentang aturan 10,000 jam?

Malcolm Gladwell, pengarang buku Outliers, adalah orang yang memopulerkan teori 10,000 jam ini! Dalam bukunya, ia memaparkan penjelasan yang rinci tentang alasan di balik kesuksesan orang-orang paling terpandang di dunia.

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa orang-orang paling sukses di dunia adalah orang-orang unik yang bersinar di bidangnya. Mereka mempunyai ide yang berbeda dari yang lain, bekerja lebih keras dari orang lain, intinya, mereka melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain. Tapi, apa iya? Apa sih yang membuat mereka begitu berbeda? Lalu, kalau benar berbeda, mengapa ada 2 orang jenius dengan nasib yang begitu berbeda pula? Apa alasan dari hal-hal ini?

Buku ini memberikan perspektif baru mengenai orang-orang sukses. Ada banyak fakta-fakta menarik, cerita-cerita yang diabaikan, dan alasan lain dari suksesnya seseorang. Tapi, saya pribadi merasa banyak bagian dari buku ini yang diulang-ulang, dan buku ini akan lebih mudah dibaca bila Anda punya pemahaman yang baik tentang sejarah Barat. Namun, pengarang juga sebenarnya mempunyai pandangan yang cukup komprehensif mengenai budaya Asia, yang mana ia masukkan dalam bukunya.

Bagaimana pun juga, buku ini memberi aku pandangan baru tentang kesuksesan. Definisi dan faktor-faktor pendukungnya. Apa yang membuat seseorang yang berbeda menjadi unik. Tentunya semua itu bukan tanpa alasan. Kalau diibaratkan panggung, buku ini memberi akses pada-mu untuk melihat hal-hal yang terjadi di belakang panggung, dan mungkin bisa membantumu untuk menemukan panggungmu sendiri. Jadi, selamat membaca!

Advertisements

Dari Ngrambe ke Colorado Lewat Bandung – Ir. Sriwiadi Djais Hardjosoemarto

 Warning: This is a book limited to our family circle, but I still hope this review could be a tribute for my grandpa

b49ce521-876c-4e26-ad8a-185472c905f5

Review in English:

This is a special review. A tribute for my beloved autobiographer, my grandpa, Sriwiadi.

Early this morning, I received a phone call from 3607 miles away telling me my grandfather has passed away. He was sick, and we have seen this coming. All my family have been gathering and stand by his side literally non-stop. He had time to say proper goodbyes to all of us, even me, via video chat. However, it does ache me that I cannot be with them on this sad, sad, day. So let me do what I can do.

3-4 years ago, my grandpa wrote this book and packaged it to his family. He made a sufficient amount of copies for his circle. You may not able to find this book in the market, so let me tell you about it.

This is the story of his life. He was born in 1940, which means he experienced the time before Indonesia’s independence. He was born in Ngrambe, a small city in the Eastern Java. Even I have never been there. For the sake of better education, he separated from his family so early in the childhood. They were poor, but my grandpa was tough and willing to work hard for his future. 

Long story short, he made it into the best technology institute in Indonesia at that time, despite originally, his dream was to be a teacher. He was enrolled in Geology department, and even though graduating was super difficult at the time, he made it. During college, he met my grandma, and they got married. Life after graduating wasn’t easy. Indonesia has just declared its independence, still a baby country. People were poor and suffered, though the country’s ambition to grow was burning. My grandpa worked for the government, Ministry of Public Works and Public Housing to be exact. However, the pay was very low, and he can barely provide for the family (at that time, it was my grandma and my mother).

 In the book, he told us heart-wrenching stories of how they divide an apple to three for dinner, how my grandma only has one skirt and how beautiful he thinks she is in it. He also told us that my mother had only been given porridge, because my grandma had to save rice, and she often ate the crumbs of my mother’s foods. He also told the story on how he finally discovered the name and treatment of his rare illness, that even to this day not all doctors can quickly identify it.

He earned his success after coming home from a year training in the US. He was a good engineer, and quickly contributed to a lot of projects. From there, he built his businesses and ensure the welfare of his family. He built the house we all had lived in, he let my grandma built her own boutique, and gave proper education for his children (4 of them).

There were a lot of simple, yet real story being told in his book, and even though it may not be written by a world-class writer, it is his legacy that I will always cherish. He is the first person that introduced me to Harry Potter (which is my first love, haha), the first person to recognize my rare pancreas disorder, and he teased me so much about how I can’t spell ‘R’ properly when I was a child, which motivates me to fix it (which I did!).

You will be missed. Rest in Peace, Aki.

IMG_3574

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Resensi ini kudedikasikan untuk penulis autobiografi kesayanganku, Aki Sriwiadi.

Tengah malam, ada telepon dari Bandung, berisi kabar bahwa kakek sudah tiada.

Tahun ini Aki (panggilan kami untuk kakek) didiagnosa sakit yang cukup berat, memberikan kami waktu yang cukup untuk mempersiapkan hal ini. Seminggu ini, seluruh keluarga berkumpul dan menemani beliau hampir 24 jam non-stop. 2 hari lalu pun aki sudah berpamitan ke semua, termasuk aku, walaupun lewat video call. Sebulan yang lalu, aku pulang ke Indonesia untuk bertemu beliau, dengan firasat membayang bahwa mungkin kali itu akan jadi yang terakhir. Bagaimana pun juga, ternyata masih tetap terasa sedih untuk tidak berada bersama keluarga ketika hal ini terjadi. Jadi, izinkan saya melakukan apa yang saya bisa.

Belum lama ini, Aki menuliskan autobiografinya dan menerbitkannya kecil-kecilan. Beliau mencetak bukunya dan membagikannya pada keluarga. Oleh karena itu, kamu mungkin tidak akan bisa menemukan buku ini di pasaran, jadi izinkan saya bercerita sedikit tentang buku ini.

Buku ini bercerita tentang hidupnya. Aki lahir tahun 1940, beberapa tahun sebelum kemerdekaan Indonesia. Beliau lahir di Ngrambe, kota kecil di daerah Jawa Timur. Namun di usia belia, beliau segera berpisah dari keluarganya demi menempuh pendidikan yang lebih baik di kota besar. Walaupun keluarganya adalah keluarga kurang mampu, Aki adalah sosok yang giat dan mau bekerja keras untuk masa depannya.

Panjang cerita, walaupun beliau bermimpi untuk menjadi seorang guru, beliau tidak diterima di akademi dan malah diterima di Institut Teknologi Bandung. Aki mengambil jurusan geologi dan menekuni bidangnya selama kuliah, masa di mana ia bertemu Nini dan menikah dengannya. Namun setelah lulus, hidup tidak menjadi lebih mudah. Pada jaman itu, kondisi masyarakat Indonesia tidak bisa dikatakan makmur. Masyarakat miskin dan menderita. Walaupun Aki bekerja di Kementrian PU saat itu, gajinya sangat kecil dan tidak cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Dalam bukunya, aki banyak bercerita tentang pahit manis hidupnya saat itu. Beliau bercerita tentang membagi 3 sebuah apel untuk makan malam dengan Nini dan anaknya (ibuku), juga bercerita tentang rok Nini satu-satunya yang selalu dipakai saat acara besar, dan betapa cantiknya Nini menurut Aki dengan rok itu. Ibuku saat itu hanya diberi makan bubur karena Nini harus menghemat beras, dan Nini pun seringkali hanya makan sisa-sisa makanan dari Aki dan anaknya. Ia juga bercerita tentang penyakitnya yang langka yang tak juga kunjung teridentifikasi dokter (yang bahkan sampai sekarang tak semua dokter dapat segera mengidentifikasinya).

Setelah kembali dari pelatihan di Amerika, Aki menjadi lebih handal dan menangani lebih banyak proyek. Dari sana lah beliau membangun bisnisnya dan memberi kehidupan yang layak untuk keluarganya. Ia membangun rumah yang masih kami tinggali, memberi modal pada Nini untuk membuat butiknya sendiri, dan menyekolahkan 4 anak-anaknya ke sekolah yang bagus.

Mungkin cerita ini hanyalah cerita nyata sederhana yang bukan ditulis oleh penulis kelas dunia, namun ini adalah warisan beliau yang akan kami kenang dan jaga. Aki-lah yang pertama mengenalkanku pada Harry Potter, mengenali gejala penyakitku, dan menggodaku karena cadel sehingga aku termotivasi untuk memperbaikinya.

Aki, semoga Tuhan menyiapkan tempat yang baik untukmu. Amin.

Everyone’s A Aliebn When You’re A Aliebn Too – Jomny Son

Rating:  3.6 out of 5

“When two aliebns fimd each other in a strange place, it feels a little more like home”

Everyone's A Aliebn

Review in English:

No, the title is not misspelled. Hahaha

To find this book is to be freed from all the suffocating twist of life.

When I saw this book and heard my friend’s recommendation, I thought it will be similar to Little Prince. Some sweet story about the alien but with reflections of life. However, it is so different than that.

This is not a book to read.

This is a book to make you smile. To cheer you up. For you to read every day, one page at a time.

The book fits for all age, as it consists of simple languages, and full of illustrations. It seems like a children’s book, but it really touches a deeper meaning than you may think. Something to refresh your mind, be grateful of your life, reminded that you are not alone, and your mind might the only think that makes your own life harder. This book might guide you to the bright exit from your own dark maze inside your mind.

For all the hard days you may bear, I really recommend you to purchase and have this book as your emergency kit fighting depression. Have a good read! 🙂

Everyones a aliebn when you're a aliebn too

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Eits, jangan cemberut dulu, judulnya bukan typo kok. Hahaha

Membaca buku ini rasanya seperti dibebaskan dari keruwetan hidup.

Pertama kali melihat buku ini dan mendengar rekomendasi dari teman, aku pikir buku ini akan mirip seperti buku Little Prince. Cerita yang sederhana tapi dalam tentang sesosok ‘alien’. Tapi ternyata, buku ini beda.

Buku ini bukan untuk dibaca.

Buku ini ada untuk membuat kamu tersenyum. Untuk menghibur kamu. Untuk kamu baca setiap hari, satu halaman saja. Dan jelas bukan untuk dibaca buru-buru.

Buku ini cocok untuk semua umur, bahasanya sederhana dan penuh dengan ilustrasi. Bahkan aku merekomendasikan buku ini untuk yang sedang belajar Bahasa Inggris (iya, sepertinya terjemahan Bahasa Indonesia nya belum ada). Buku ini bisa membantumu menyegarkan pikiran, bersyukur akan hidupmu, mengingatkan kamu bahwa kamu tidak sendiri, dan membuatmu sadar bahwa mungkin yang membuat hidupmu rumit adalah pikiran-pikiranmu sendiri. Dan buku ini mampu membimbingmu keluar dari labirin gelap.

Mungkin sekarang atau di masa depan, kamu akan menghadapi hari-hari yang berat untuk dilalui, untuk itu, aku menyarankan untuk menyimpan buku ini sebagai penolong darurat di kala masa itu datang. Selamat membaca! 🙂

Sophie’s World – Jostein Gaarder

Rating: 4.9 out of 5

“We are the living planet, Sophie! We are the great vessel sailing around a burning sun in the universe. But each and every of us is also a ship sailing through life through a cargo of genes. When we have carried this cargo safely to the next harbor – we have not lived in vain…”

Sophie's World (4)

Review in English:

So far, this is the highest rating I have given for a book.

 It’s a new year, and I think we deserve a great start, aren’t we?  

I know it’s a bit late for the first review on 2018, but it’s 31st January here, and I am still posting this on the first month (hopefully)!

 Honestly, I really do not want to spoil this book for you, and I am currently carefully typing, choosing the right words on how to convey the message to you on how mind blowing this book is for me.

What do you know about history of mankind?

Have you learned Biology? Chemistry? Literature? Arts? Math? Psychology? Theatre, maybe?

Do you have certain faith? Religion? Any kinds of believes?

Well, I have. I remembered of being forced by my teachers to remember all these things since I was little, and while living my life, I stumbled into several fields where I get to know the famous names and heard about their famous master pieces, here and there.

 Nevertheless, I know I have all these information in my head, scattered, or maybe saved in different parts of the brain, each stored neatly in their own boxes. Maybe Darwin in Biology, Shakespeare in Literature, Samuel Beckett in Theatre, Lamarck in Math, and so on.  I never knew how these people connected, how their idealism mixed, how they founded their works, and how their works affects or being affected by the society surroundings…

 But this book……

Oh My God, this book.

 Reading this book feels like it’s creating a map through my brain, my life, even. All the information stored deep in my brain back when I was in elementary school is being mapped all to the present me. 

 All the questions about life, people, and all the why’s I tried to forget when I was in teenager, questions about religion, too, are being answered by this book. However, indeed it could be just me, maybe you wouldn’t as inspired as I am – let us not forget that possibility – but I still think this is a book you have to read at least once in your life. And for those of you who are afraid reading something philosophical would shake your faith, I can’t guarantee anything, but for me, it reaffirms my faith. Moreover, it opens my mind on what the real meaning of religion is, and how closed minded I have been on understanding the concept of ‘God’. A little trivia, but this book has made me realize that society ‘humanize’ God so much.

Maybe it will take a long time to read (I took around 2.5 months to finish and comprehend it), as you would need to absorb it slowly, and stop from time to time and discuss it with people you trust with. Anyway, if you want some discussion, I would be ecstatic to discuss this book with you!

 Here’s a lil preview:

When 14 year old Sophie encounters a mysterious mentor who introduces her to philosophy, mysteries deepen in her own life. Why does she keep getting postcards addressed to another girl? Who is the other girl? And who, for that matter, is Sophie herself? To solve the riddle, she uses her new knowledge of philosophy, but the truth is far stranger than she could have imagined.

 Sophie's World (5)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Sejauh ini, ini adalah buku pertama yang aku beri nilai tertinggi dalam membuat resensi.

Untuk awal tahun yang baik, pantas kan untuk membaca buku yang luar biasa juga?

Maaf yaa agak terlambat dalam mengirim review buku baru di tahun 2018 ini! Tapi karena masih tanggal 31 Januari, semoga masih bisa terhitung menyambut tahun baru!

Sebenarnya sulit sekali untuk membuat resensi buku ini, karena aku tidak ingin membocorkan ceritanya maupun topik-topik buku ini, yang bagiku bahkan tidak tergambarkan kata-kata. Jadi aku akan membuat resensi ini dengan sangat hati-hati hahaha.

Apa yang kamu tahu tentang sejarah kemanusiaan?

Pernahkah kamu belajar Biologi? Kimia? Sastra? Seni? Matematika? Psikologi? Seni Teater, mungkin?

Apakah kamu memiliki suatu kepercayaan? Agama? Atau apa pun itu bagimu?

Kebetulan, aku punya.

Sedari kecil, kita selalu terbiasa dengan dipaksa untuk mengingat pelajaran dan teori-teorinya, dan semasa hidup kita, mungkin kita mencoba lebih dari 1 bidang di mana kita punya kesempatan untuk menggelutinya. Saat mempelajari bidang/pelajaran itu, pastilah kamu mengenal nama-nama orang yang berpengaruh di bidangnya, penemuan-penemuannya, teori-teorinya. Tapi apakah nama-nama itu saling berkaitan satu sama lain? Kalau iya, di mana kah mereka berkaitan? Dalam otakku, setiap nama-nama dan teori seakan terkotak-kotak ke bidangnya masing-masing, misalnya Darwin di Biologi, Newton di Fisika, Shakespeare dalam Sastra, dst.

Tapi buku ini….

Buku ini seakan membuat peta dalam otakku, bagaimana hal-hal dan nama-nama yang kupelajari sewaktu kecil berkaitan, di mana filosofi dan idealisme mereka bersinggungan, bertentangan, atau bergandengan. Bagaimana teori mereka lebih dari sekedar perhitungan matematis atau karya seni yang luar biasa, tapi bagaimana karya mereka berkontribusi dalam sejarah kemanusiaan. Di mana peran dari temuan-temuan mereka, bagaimana pola pikir orang-orang berpengaruh ini membentuk dan menggambarkan era di mana mereka hidup.

Semua pertanyaan tentang hidup, tentang manusia, bahkan tentang agama, yang kumiliki sejak lama, secara langsung dan tidak langsung terjawab berkat buku ini. Semua pertanyaan ‘kenapa’ yang sering kali kusimpan rapat-rapat dijabarkan secara logis dan empatik dalam buku ini.

Tapi mungkin, mengutip buku Dunia Sophie ini, “Kita mengambil peran yang penting dalam menentukan apa yang kita tuju dengan memilih apa yang penting bagi kita”, kesanmu pada buku ini mungkin tidak sama dengan kesanku, perbedaan pengalaman hidup, ketertarikan, dan Bahasa mungkin akan sangat berpengaruh. Tapi bagaimana pun juga, buku ini tetap kurekomendasikan untuk dibaca paling tidak sekali seumur hidup.

Untuk kalian yang takut bahwa buku bertema filosofi akan mengguncang iman, walau mungkin berbeda bagi setiap orang, dalam kasusku, aku hanya merasa semakin kuat pada kepercayaanku. Justru buku ini membuka pikiranku tentang arti dari agama itu sendiri, dan betapa sempit selama ini pemahaman kita tentang konsep Tuhan. Di satu titik, aku menyadari bahwa selama ini kebanyakan manusia ‘memanusiakan’ Tuhan sedemikian rupa.

Apa pun itu, silakan coba baca buku ini! Mungkin butuh waktu, karena tidak mudah untuk mencerna buku ini (aku pun butuh waktu sekitar 2,5 bulan untuk menyelesaikan buku ini), dan akan sangat baik bila diiringi dengan diskusi dengan orang yang terpercaya, sehingga ide-idenya akan terangkum dengan lebih baik lagi. Kalau kalian ingin berdiskusi tentang buku ini, aku dengan senang hati menemani!

Berikut cuplikannya:

Sophie yang berumur 14 tahun tiba-tiba mendapati dirinya mempunyai seorang mentor misterius yang mengenalkannya pada filosofi. Berbagai misteri terus memenuhi hidupnya, mengapa dia selalu mendapat kartu pos yang dialamatkan untuk gadis lain? Siapa gadis itu? Tapi yang lebih penting, siapakah seorang ‘Sophie’? Demi memecahkan teka-teki ini, Sophie menggunakan pengetahuan barunya tentang filosofi, namun kenyataan yang ia temukan justru lebih aneh dari yang mampu ia bayangkan.

PS: Terjemahan dari Sophie’s World dalam Bahasa Indonesia dapat ditemukan dengan judul Dunia Sophie, namun pendapatku pribadi, akan lebih baik untuk membaca versi Bahasa Inggrisnya!

 

#Girlboss – Sophia Amoruso

Rating: 3.8 out of 5

“When you accept yourself, it’s surprising how much other people accept you, too.”

Girlboss (1)

Review in English:

Lately, women empowerment has been a raising issue all over the world. Just like Lean In, this book, Girlboss, is one of the book that has become a manifestation of feminist. Thus, I think it’s important to try to read it.

As I read it, at first, I got the picture that this is more fit to business women, or entrepreneurs, especially the ones in fashion industry and/or online business. However, the more I read it, the more I felt its words expand to even more than just business and career. It is about how to stay strong and strive in your life. Some would argue that this book may be too harsh, but that could be a good thing. It’s not giving you sweet words nor promises, it gives you exactly what you need, the exact reality. Push forward, take control of your own life.

The best thing is, Sophia Amaruso has experienced being at the bottom of life, being a nothing, even a criminal. Even though her case couldn’t be applied to everyone’s life, her struggle is a great example what you could achieve if you hoist yourself up!

Here’s a preview:

Sophia Amoruso spent her teens hitchhiking, committing petty theft, and scrounging in dumpsters for leftover bagels. By age twenty-two she had dropped out of school, and was broke, directionless, and checking IDs in the lobby of an art school – a job she’d taken for the health insurance. It was in that lobby that Sophia decided to start selling vintage clothes on eBay. Flash forward ten years to today, and she’s the founder and executive chairman of Nasty Gal, a $250-million-plus fashion retailer with more than four hundred employees. Sophia was never a typical CEO, or a typical anything, and she’s written “#GIRLBOSS” for other girls like her: outsiders (and insiders) seeking a unique path to success, even when that path is windy as all hell and lined with naysayers.

Girlboss (2)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Seiring dengan semakin seringnya isu emansipasi dan persamaan derajat perempuan dan laki-laki diangkat, saya menemukan buku ini. Mirip dengan Lean In, buku #Girlboss ini adalah salah satu buku dengan tujuan mendukung para wanita. Dan buku ini sangat menarik.

Saat saya membaca buku ini, awalnya saya hanya mendapat gambaran bisnis seorang pengusaha perempuan, terutama yang bergerak di bidang busana dan online business. Namun, semakin diteruskan, isi dari buku ini semakin dalam dan menyentuh aspek-aspek lain dalam hidup di luar karir dan penghasilan. Ini tentang bagaimana untuk tetap berdiri tegak dan kuat dalam menjalani hidup sebagai perempuan. Mungkin beberapa orang merasa buku ini agak keras dan ‘cablak’, tapi menurut saya, sisi baiknya adalah buku ini tidak menjanjikan omong kosong, menyajikan realita, baik itu menyakitkan maupun menenangkan. Pembaca diingatkan kembali, untuk memegang kendali dalam hidupnya dan melibas rintangan dalam hidup.

Salah satu poin menakjubkan dari buku ini adalah Sophia Amoruso yang telah menjalani hidupnya berada di titik terendah. Menjadi seseorang yang tidak berguna, bahkan seorang kriminal, dan bangkit membangun sesuatu yang besar. Memang, cerita dan langkah-langkah yang ia lakukan tidak bisa dijiplak langsung pada hidup semua orang, namun kisahnya merupakan contoh yang menginspirasi bahwa perempuan pun bisa mencapai mimpi dan menjadi pemimpin.

Berikut sedikit cuplikannya!

Sophia Amoruso menghabiskan masa remajanya dengan menumpang mobil orang, mencuri, dan mengais-ngais sampah mencari sisa bagel. Pada umur 22 tahun ia DO dari sekolah, bangkrut, hilang arah, dan menjadi penjaga di suatu sekolah seni, pekerjaan yang hanya ia ambil demi mendapat asuransi kesehatan. Namun di lobby sekolah itu lah Sophia memutuskan untuk menjual baju-baju vintage di E-bay. Sepuluh tahun kemudian, hari ini, ia adalah pendiri sekaligus Direktur Utama dari Nasty Gal, sebuah perusahaan retail fashion bernilai 250 juta dolar lebih dengan lebih dari 400 pegawai. Sophia bukanlah tipikal direktur pada umumnya, atau bahkan tipikal orang pada umumnya, dan ia menulis buku #Girlboss ini untuk perempuan-perempuan lain sepertinya: seseorang yang mencari jalan menuju kesuksesan, walaupun jalan itu kemudian berbatu, menyakitkan, dan dipenuhi orang-orang yang menolak mereka.

It’s Your World – Chelsea Clinton

Rating: 3.4 out of 5

“YOU can make a difference. YOU can make a change.

Processed with VSCO

Review in English:

Shout out to all teenagers!

Yes, this time, the book definitely suits you, teens. Personally, I regret not reading this book way earlier when I am still in junior or high school. It is a very eye-opening book, with a lot of crucial information that I guarantee would help you to get a better understanding on the world revolving around you!

Chelsea Clinton, as we probably can guess by her name, is the daughter of former United States President Bill and Hillary Clinton. She is an exceptional example of a person born with silver spoon, yet makes the most of it and spread her knowledge worldwide. The book she wrote is very comprehensive, covering various sectors on issues around the world, issues we are all struggling with, including water resources, poverty, gender equality, climate change, and so many more. Most importantly, it gives detail information (down to organization names, websites you can immediately join) on how to give your direct contribution to the world!

It’s Your World filled with pictures, graphs, tables, data, and all kinds of facts, described in casual and simple way, I can assure you, you will understand it easily! This is exactly the kind of book youth should read. So please look for this book and read it, broaden your view,  spread your hands further in helping people!

It's Your World (2)

Resensi dalam Bahasa:

Selamat soree untuk remaja Indonesiaa!

Yep, kali ini khusus menyapa kalian, adalah buku yang sangat cocok untuk anak-anak dan remaja yang ingin tahu tentang dunia!

Saya sendiri menyesaal sekali tidak membaca buku ini saat saya masih SMP atau SMA, karena buku ini berguna sekali untuk anak-anak sekolah, terutama yang aktif dalam organisasi, atau bahkan yang tidak aktif sekali pun!

Buku ini ditulis oleh Chelsea Clinton, putri dari mantan Presiden Bill Clinton dan istrinya, Hillary. Chelsea Clinton memang lahir dengan lingkungan yang mapan, namun dengan semua keistimewaan hidup yang dia dapatkan, ia memanfaatkannya dengan sangat baik dengan membantu, dan menyebarkan pengetahuannya melalui buku ini! Chelsea memberikan banyak inspirasi dalam bukunya mengenai bagaimana kita bisa menolong orang lain atau berkontribusi aktif dalam isu-isu global, dan ternyata sangat mungkin loh untuk remaja!

Buku It’s Your World disampaikan dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti untuk anak-anak, lengkap dengan gambar dan data-data yang detail dan komprehensif, sehingga orang dewasa bisa menjelaskan pada anak-anaknya dengan lebih baik pula bila dibaca berdampingan. Menurut saya pribadi, buku ini salah satu buku wajib baca untuk anak muda zaman sekarang! Karya Chelsea Clinton ini dijamin akan memperluas pengetahuan anak-anak, dan memotivasi mereka untuk berbuat baik terhadap sesama serta sekaligus memberikan informasi detail (nama organisasi dan komunitas, alamat situs untuk bergabung) mengenai cara menyalurkan keinginan membantu kita, dengan inspiratif!

Have A Little Faith – Mitch Albom

Rating: 4.1 out of 5

“As is often the case with faith, I thought I was being asked a favor. Actually, I was being given one”

have-a-little-faith

Hi!! Happy New Year! Okay, I know it’s already too late, but originally, I wrote this to the intention of welcoming the new year hahahahahaa!

Review in English:

Before I told you about this particular book, let me get you a bit of my back story of reading this book.

Mitch Albom is one of my favorite authors. I jumped at first chance to buy his new book (or at least saving my money as fast as I can to buy his book). However, Have A Little Faith is his last book that I read and bought (compared to his other books), despite it was published in 2009. I picked it up so many times at the bookstore, only to put it back and turned to other books. Why?

Simple. Because it was about religion and faith. Moreover, not my religion. And it was a true story. I was afraid.

I was afraid it will drift me off from my own religion, Islam, and change my believe into other religion. I always thought “I’ll read this when my faith is stronger, so I wouldn’t get persuaded or anything.

As soon as I read it, you know what? I regret not reading it sooner.

It doesn’t matter, what your religion is. Have A Little Faith is not telling you to switch your religions or telling you what the best religion is. It doesn’t talk about that.

It talks about normal life, of a normal man, the reason why someone chose to dedicate his life for God, and what he thought of God and his religion. This is the story of kindness. A story about faith, and how all religion wants you to do and be good.

Have A Little Faith is telling you about 2 different men, from different religion, that you usually call a pious man. Mitch Albom himself, who at the times were not in a very religious state, rather ignorant about those kinds of things, are being requested to do these men’s eulogy. And by accepting it, he gets to know them, as a man.

As Mitch Albom said, “Picture the most pious man you know. Your priest. Your pastor. Your rabbi. Your imam.” And by reading this, you may feel like you got the chance to talk to them privately. Have A Little Faith, may be able to restore your faith. Because it did for me, as a Muslim.

A little note, though. In my opinion, reading this book requires one condition, and that is not to read it while hating some other religion. Try to open your heart, and read it as it is.

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Sebelum kita bicara tentang buku berikut, aku ingin menceritakan sedikit pengalaman pribadiku dalam membaca buku ini.

Pernahkah kamu membaca buku yang sangat menyentuh? Mengingatkanmu atas suatu hal yang penting, tapi mungkin terlupakan? Untukku, itulah buku-buku yang ditulis oleh Mitch Albom. Setiap bukunya mengingatkan nilai-nilai hidup yang seringkali terlupakan.

Tapi, buku Have A Little Faith adalah buku Mitch Albom yang terakhir aku baca, walaupun berulang kali kuambil dari rak buku di toko, pada akhirnya hanya untuk kuletakkan lagi. Alasannya sederhana, walaupun juga sedikit rumit.

Agama. Have A Little Faith mengulas tentang agama dan iman. Buku ini bercerita tentang 2 pemuka agama yang berbeda, yang berbagi banyak kenangan dengan Mitch Albom sendiri. Sebagai seorang pemeluk agama Islam, aku cukup takut, bahwa buku ini akan membujuk atau menggoyahkan imanku terhadap agamaku. Tapi ternyata, justru kebalikannya.

Have A Little Faith memberi wawasan tentang 2 orang pemuka agama yang berbeda, dan alasan mereka menjalani hidup yang mereka pilih. Mengapa seseorang bisa begitu yakin terhadap Tuhannya, mengapa seseorang bisa begitu sabar tetap kukuh pada agamanya di tengah dunia yang semakin semrawut.

Banyak pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang konsep iman dan keagamaan yang akan terjawab dengan membaca buku ini, dan tidak peduli apa agamamu. Dengan membaca buku ini, kita dibuat menyadari, bahwa semua agama mengajarkan kebaikan, dan betapa indahnya toleransi dan hidup berdampingan.

Sedikit catatan, untuk membaca buku ini, ada satu syarat yang harus dipenuhi: tidak membenci agama mana pun. Membaca buku ini membutuhkan kelapangan hati, dan cobalah membaca sebagaimana adanya, tanpa rasa permusuhan terhadap suatu agama lain atau lebih.