#Girlboss – Sophia Amoruso

Rating: 3.8 out of 5

“When you accept yourself, it’s surprising how much other people accept you, too.”

Girlboss (1)

Review in English:

Lately, women empowerment has been a raising issue all over the world. Just like Lean In, this book, Girlboss, is one of the book that has become a manifestation of feminist. Thus, I think it’s important to try to read it.

As I read it, at first, I got the picture that this is more fit to business women, or entrepreneurs, especially the ones in fashion industry and/or online business. However, the more I read it, the more I felt its words expand to even more than just business and career. It is about how to stay strong and strive in your life. Some would argue that this book may be too harsh, but that could be a good thing. It’s not giving you sweet words nor promises, it gives you exactly what you need, the exact reality. Push forward, take control of your own life.

The best thing is, Sophia Amaruso has experienced being at the bottom of life, being a nothing, even a criminal. Even though her case couldn’t be applied to everyone’s life, her struggle is a great example what you could achieve if you hoist yourself up!

Here’s a preview:

Sophia Amoruso spent her teens hitchhiking, committing petty theft, and scrounging in dumpsters for leftover bagels. By age twenty-two she had dropped out of school, and was broke, directionless, and checking IDs in the lobby of an art school – a job she’d taken for the health insurance. It was in that lobby that Sophia decided to start selling vintage clothes on eBay. Flash forward ten years to today, and she’s the founder and executive chairman of Nasty Gal, a $250-million-plus fashion retailer with more than four hundred employees. Sophia was never a typical CEO, or a typical anything, and she’s written “#GIRLBOSS” for other girls like her: outsiders (and insiders) seeking a unique path to success, even when that path is windy as all hell and lined with naysayers.

Girlboss (2)

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Seiring dengan semakin seringnya isu emansipasi dan persamaan derajat perempuan dan laki-laki diangkat, saya menemukan buku ini. Mirip dengan Lean In, buku #Girlboss ini adalah salah satu buku dengan tujuan mendukung para wanita. Dan buku ini sangat menarik.

Saat saya membaca buku ini, awalnya saya hanya mendapat gambaran bisnis seorang pengusaha perempuan, terutama yang bergerak di bidang busana dan online business. Namun, semakin diteruskan, isi dari buku ini semakin dalam dan menyentuh aspek-aspek lain dalam hidup di luar karir dan penghasilan. Ini tentang bagaimana untuk tetap berdiri tegak dan kuat dalam menjalani hidup sebagai perempuan. Mungkin beberapa orang merasa buku ini agak keras dan ‘cablak’, tapi menurut saya, sisi baiknya adalah buku ini tidak menjanjikan omong kosong, menyajikan realita, baik itu menyakitkan maupun menenangkan. Pembaca diingatkan kembali, untuk memegang kendali dalam hidupnya dan melibas rintangan dalam hidup.

Salah satu poin menakjubkan dari buku ini adalah Sophia Amoruso yang telah menjalani hidupnya berada di titik terendah. Menjadi seseorang yang tidak berguna, bahkan seorang kriminal, dan bangkit membangun sesuatu yang besar. Memang, cerita dan langkah-langkah yang ia lakukan tidak bisa dijiplak langsung pada hidup semua orang, namun kisahnya merupakan contoh yang menginspirasi bahwa perempuan pun bisa mencapai mimpi dan menjadi pemimpin.

Berikut sedikit cuplikannya!

Sophia Amoruso menghabiskan masa remajanya dengan menumpang mobil orang, mencuri, dan mengais-ngais sampah mencari sisa bagel. Pada umur 22 tahun ia DO dari sekolah, bangkrut, hilang arah, dan menjadi penjaga di suatu sekolah seni, pekerjaan yang hanya ia ambil demi mendapat asuransi kesehatan. Namun di lobby sekolah itu lah Sophia memutuskan untuk menjual baju-baju vintage di E-bay. Sepuluh tahun kemudian, hari ini, ia adalah pendiri sekaligus Direktur Utama dari Nasty Gal, sebuah perusahaan retail fashion bernilai 250 juta dolar lebih dengan lebih dari 400 pegawai. Sophia bukanlah tipikal direktur pada umumnya, atau bahkan tipikal orang pada umumnya, dan ia menulis buku #Girlboss ini untuk perempuan-perempuan lain sepertinya: seseorang yang mencari jalan menuju kesuksesan, walaupun jalan itu kemudian berbatu, menyakitkan, dan dipenuhi orang-orang yang menolak mereka.

Advertisements

It Ends with Us – Colleen Hoover

Rating: 4.8 out of 5

“There is no such thing as bad people. We’re all just people who sometimes do bad thing.”

It Ends with Us

(picture taken from Goodreads) 

Reviewed by: Kirana Nadhila

Review in English:

At first I thought it was just a cheesy triangle love story, but boy was I wrong. This book delivers much more than I expected. Hoover wrote this book based on her own experience; of being a child whose father was abusive to her mother, making it relatable and not the slightest bit exaggerating. The book gives you a perspective of how it is not black and white, how it is not easy at all to leave when you are the victim of domestic violence. The book makes you understand, and better yet: the book makes you feel empowered. Yup, this book is capable to do just that.

Though the topic was heavy, it is written in such light  sentences and layered with an engaging love story. The added twists are just right when and where they are needed to keep the story interesting enough for you not to put the book down. From the beginning all the little details of the characters’ actions build up to the end of the book, how literally ‘it ends with us’. If you are looking for a bittersweet love story, this book will certainly fulfill it and beyond.

Here’s a preview!

Lily hasn’t always had it easy, but that’s never stopped her from working hard for the life she wants. She’s come a long way from the small town in Maine where she grew up – she graduated from college, moved to Boston, and started her own business. So when she feels a spark with a gorgeous neurosurgeon named Ryle Kincaid, everything in Lily’s life suddenly seems almost too good to be true.

Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Awal saya membaca buku ini, saya pikir ini hanyalah cerita cinta segi tiga biasa, tapi saya  salah besar. Buku ini menceritakan jauh lebih banyak dari itu. Hoover menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai seorang anak yang menyaksikan KDRT ayahnya terhadap ibunya. Ia mengemasnya sehingga mudah untuk dipahami dan tanpa hiperbola sama sekali. Buku ini akan memberikan pembacanya tentang dunia yang tidak hanya hitam dan putih, bagaimana sulitnya keluar dari lingkaran KDRT. Buku ini tidak hanya membuat kita memahami perasaan tokoh-tokohnya, namun juga memberi kekuatan kepada pembacanya. Yap, buku ini mempunyai daya tarik luar biasa.

Meskipun topik yang diangkat dalam buku ini cukup berat, gaya penulisannya ditulis dalam Bahasa  yang ringan dan dibumbui cerita cinta yang memikat. Kejutan-kejutan tambahan diletakkan di momen-momen yang tepat, sehingga alur cerita tidak pernah membosankan. Dari permulaan cerita, semua detail tokoh-tokohnya dibangun untuk memberi penutup yang luar biasa, sehingga judul ‘It Ends with Us’menjadi sangat mengena. Jika kamu mencari cerita mengenai pahit manisnya cinta, buku ini jelas akan memenuhi ekspektasimu, dan bahkan lebih.

Berikut cuplikannya!

Lily hidup dengan berbagai tantangan, namun itu semua tidak pernah membuatnya berhenti berusaha menggapai cita-citanya. Ia datang dari kota kecil di Maine, di mana ia tumbuh, lulus kuliah, lalu pindah ke Boston dan memulai usaha miliknya sendiri. Saat ia bertemu dan jatuh cinta dengan seorang spesialis syaraf, Ryle Kincaid, hidupnya seakan terlalu indah untuk dipercaya.

Tuesdays With Morrie – Mitch Albom

Rating: 4.9 out of 5

“To learn how to die is to learn how to live”

Tuesdays with Morrie (1)

Review in English:

Before we start, try to remember someone you respect the most. It could be your teacher, professor, parents, monks, pastor, ulama, or somebody else. Now, imagine one day they popped up at your television, announcing their closing death.  

 This is the last lesson they want you to learn.

A lesson about how to live, by reflecting on death.  Delivered by Mitch Albom’s beloved professor, this book contains answer on each of your questions on life. Life is full of things to think about, items to pursue, goals to achieve, and people to meet. This legacy will help you in determining which ones are important, and which ones are merely distractions in life. Coming from a wise man, whom had bitten the sweet part and been the bitter side of the long drama we called life. I could swear to you that you would not waste your time by reading this, nor will you get nothing out of this. Indubitably.

 Here’s the preview!

 Morrie Schwartz, the college professor, was the person who understood Mitch Albom when he was young and impassioned, helped him to see the world as a more profound place, and gave him sound advice to guide his way through it. Perhaps, like Mitch, you lost track of this mentor as the years passed, the insights faded, and the world seemed colder. Wouldn’t you like to see that person again, to ask the bigger questions that still haunt you, and receive wisdom for your busy life the way you once did when you were younger?

 Tuesdays with Morrie (3)

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Berhentilah sesaat, dan cobalah mengingat. Siapakah seseorang yang kamu hormati dengan sangat? Mungkin guru, dosen, orang tua, biksu, pendeta, atau ulama? Kemudian, bayangkanlah suatu hari mereka tampil di televisi di rumahmu, mengumumkan bahwa kematiannya sudah dekat.

Ini adalah pelajaran terakhir dari Beliau.

Sebuah pelajaran, tentang bagaimana cara menjalani hidup, dengan berefleksi pada kematian. Disampaikan oleh seorang dosen yang pernah mengajar Mitch Albom di masa mudanya, buku ini memiliki jawaban dari banyak pertanyaan mengenai hidup yang seringkali menghantui kita. Memang, hidup ini penuh dengan hal yang harus dipikirkan, benda-benda pokok yang harus dibeli, cita-cita untuk dikejar, dan orang-orang yang harus ditemui. Buku ini adalah sebuah warisan yang akan membantumu menentukan manakah hal-hal yang penting, dan manakah hal-hal yang berperan sebagai distraksi dalam hidup. Dirangkum dalam ‘kelas’ singkat oleh Professor Morrie, yang telah menjalani manis dan pahitnya perjalanan panjang hidup.

Berikut sinopsisnya!

Morrie Schwartz adalah seorang dosen yang paling memahami Mitch Albom saat ia masih muda, seorang mahasiswa yang tidak sabaran. Profesor Morrie membantunya melihat dunia dari sisi yang berbeda, memberi nasihat-nasihat bijak untuknya menjalani hidup. Mungkin kalian, para pembaca, sama seperti Mitch, yang kemudian kehilangan kontak dengan mentor seiring berjalannya waktu, semakin banyaknya kesibukan, dan semakin kerasnya hidup. Maukah kamu menemui mentormu lagi untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan hidup yang masih menghantuimu, dan menerima secercah kebijaksanaan, seperti semasa muda dulu, untuk menjalani hidupmu?

 

Kenanga – Oka Rusmini

Rating: 2.7 out of 5

“Bukankah semua tokoh memegang peranan yang ada artinya bagi tokoh lain, sekalipun tokoh itu hampir tidak ada artinya.”

Kenanga (1)

Review in English:

Indonesia. What is the thing widely known by foreigners about Indonesia?

 Yup, Bali.

 Bali is a part of Indonesia with great preservation on its culture. Its unique tradition, mixed with its mesmerizing nature has been the things that make Bali stand out so much. However, it is very rare of us to have deep insight on how it feels to be a Balinese, even as Indonesian.

 Oka Rusmini has presented a brand-new perspective on how cultural values being brought to Balinese individuals’ life. The background of the story was crammed with traditional rules, ceremonies, daily traditions, and society classification. However, it is very easy to understand, and the story is light enough to be grasped. Most of the story is about romance and the cultural constrains regarding it.

Here’s a little peek!

 Kenanga is a Balinese woman, full of ambitions and dreams. She is smart and determined, but a stubborn girl. But her world turned upside down when he met Bhuana, a man so in love with her. Ironically, her sister, Kencana, sees Bhuana as her life purpose. Life goes on, but where would this twisted thread of destiny bring them?

Kenanga (2)

 Resensi dalam Bahasa Indonesia:

Bali atau Pulau Dewata adalah salah satu sumber pariwisata terbesar Indonesia. Namun, seberapa dalam kah kita tahu mengenai Bali? Hanya sekedar pantai-nya? Barong? Ubud? Makanan-makanannya yang terkenal enak dan pedas?

Kedalaman budaya Bali mengakar kuat pada setiap individu yang lahir di tanah tersebut. Nilai-nilai budaya yang diturunkan dan dijaga hari demi hari, tahun demi tahun. Kali ini, Oka Rusmini mencoba memberikan gambaran mengenai bagaimana nilai-nilai budaya Bali memengaruhi perilaku, tata bahasa, dan keputusan-keputusan hidup masyarakat Bali.

Cerita Kenanga berkisar seputar romantisme, namun dibalut dengan indah oleh budaya Bali yang tidak banyak orang awam paham, atau bahkan sekedar tahu. Latar belakang cerita begitu kaya dengan adat istiadat, tata krama, upacara adat, dan kebiasaan spiritual sehari-hari masyarakat Bali. Hal ini menambah kedalaman dalam romantisme cerita yang dibangun oleh Oka Rusmini.

Berikut sedikit cuplikannya!

Kenanga adalah seorang perempuan muda Bali yang penuh impian dan ambisi. Ia cerdas, ulet, tapi juga keras hati. Baginya hidup adalah karier. Namun, ambisi dan impian Kenanga rontok ketika mengenal Bhuana, lelaki yang amat mencintainya. Ironisnya, justru kepada Bhuana, adik Kenanga, Kencana, mengabdikan seluruh hidup dan cintanya. Roda hidup terus berjalan, namun ke mana kah benang takdir yang saling membelit ini akan membawa mereka?

 

Welcome to New Reviewers!

Good evening, booklovers!

Thank you for reading my book reviews up until now, and I am genuinely hoping it has been useful to all of you 🙂 

However, some of you probably noticed the diversity of books I reviewed haven’t been high, and my rambling probably doesn’t represent all the opinions out there. Therefore, I have asked several other people with different views and genre of readings to review their favorite books, and it has been exciting!

It probably takes some time, but I’ll present to you the newly reviewed book by my good friend Lakhsmi on 4th of August, and I am sure you’ll enjoy it!

Selamat malaaam!

Gimana gimana? Sudah dapat cukup banyak referensi untuk membeli buku yang kira-kira menarik untuk kamu? Terima kasih yaa sudah mau baca-baca resensi kami…

Tapi…mungkin beberapa di antara kalian mulai melihat kurangnya variasi jenis buku di sini, dan bahwa mungkin opini saya tidak merepresentasikan semua tipe pembaca. Oleh karena itu…belakangan ini saya mengundang beberapa orang yang memiliki pandangan dan jenis buku favorit yang berbeda untuk menuliskan resensi mereka di sini!

Untuk mempos resensi dari penulis-penulis baru ini mungkin tidak bisa se-rutin biasanya, namun setelah ini, saya akan publish resensi dari Lakhsmi, yang sangat menarik! Selamat membaca! 😉

I am (almost) back!

Hi dear bookworms!

I am so sorry for a little break lately…

I am currently facing an issue with my dearest laptop here, so it’s a bit troubling to write (since my keyboard is kinda broken).

HOWEVER!

I definitely won’t give in to that, and I will keep recommend you books (using different devices), but probably less frequent. I promised I’ll try to solve this within 2 weeks. Meanwhile, you can check the instagram for short version of recommendation!

Anyway, here I give you new review!