For One More Day – Mitch Albom

Rating: 4.0 out of 5

“When you look into your mother’s eyes, you know that is the purest love you can find on this earth.”

For One More Day (2)

Review in English:

I have written a good book recommendation to you concerning family, have I? However, it was about fathers, and maybe, this time, we’ll give it to the partner, which is the mother.

Today, before reading this book, I’d like you to reminisce your time with your mother. Have you been close? Do you have any regret? At all?

Well, no worries pal. I guarantee you will bawl your eyes out and answered yes to all my questions once you read this book. Yes, this book is definitely a crier. It will take you way back into your past, makes you recollecting childhood memories, remind you and surfacing your feelings so much of how you missed your mother. This book is so well written it feels like a movie, you can actually picture the scenes. In my opinion, this book is something you need if you wanted to regain your sensitivity. It touches you right on the heart.  

 The story basically focuses on this question: What would you do if you could spend one more day with a lost loved one?

Because that is what the main character experience. It’s a story of ancient compassion and affection, that has never ceased through centuries or ages. You and your mother. Him and his mother. Even though he prioritize his father almost his entire life, it is regretful that he finally comprehend his mother’s love after she has passed away. This is a story for another chance. A chance to straighten out his views, his relationship, and to finally say those unspoken words. On the verge of his own death, he is given a priceless opportunity, to once again meet his mother.

PS: Wanna know why I don’t tell you the main character’s name? It simply because this story will pull you in, it feels like you yourself is the main character!  

For One More Day

Resensi dalam Bahasa:

  Selamat sore!

Nah, siapa yang tidak kenal peribahasa ‘Surga di telapak kaki Ibu’? Dalam budaya Indonesia, peribahasa ini sudah sangat santer terdengar bahkan sejak kita masih sangat kecil dan baru mulai belajar tentang tata krama dan sopan santun.

Oh, Bukan, bukan…aku bukannya mau menceramahi kalian tentang cara memperlakukan Ibu blalalaa….Hanya saja, hari ini aku ingin merekomendasikan buku yang (mungkin) bias membuat kita mengerti mengapa dalam budaya kita Ibu sangat dijunjung tinggi.

Buku ini tidak akan menceramahi kalian, tapi buku ini jelas sangat, sangat, sangat menyentuh. Dan dijamin kalian akan menutup buku ini dengan mata sembab karena menangis. Hehe. Buku ini akan ‘membantu’ kalian mengingat masa kecil, dan betapa besar rasa rindu kita terhadap Ibu. Buku ini ditulis dengan sangat indah dan gaya yang baik, sehingga sangat mudah untuk membayangkan adegan demi adegan yang tertulis. Menurutku pribadi, buku ini adalah buku yang kamu butuhkan kalau kamu ingin menemukan kembali sisi melankolismu.

Inti cerita dari buku ini adalah menjawab pertanyaan berikut: Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bias menghabiskan satu hari bersama seseorang yang telah tiada?

Hal inilah yang dialami tokoh utama kita. Cerita mengenai ia dan ibunya. Mengingatkan kita tentang diri kita dan ibu masing-masing. Sang tokoh yang selalu mengejar sosok ayahnya, terlambat menyadari, betapa besar peran ibu dalam hidupnya. Tapi di momen antara hidup dan mati, ia dianugerahi satu kesempatan. Kesempatan untuk bertemu, berbicara, dan menghabiskan waktu dengan Sang Ibu, yang seharusnya sudah tak bisa ia temui lagi.    

 

 

 

Ayahku (Bukan) Pembohong – Tere Liye

Rating: 3.0 out of 5

Hidup harus terus berlanjut,tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan, biar waktu yg menjadi obat”

Ayahku (Bukan) Pembohong

Review in English:

Good morning! How are you today? How’s the family?

Some daughters are closer with their moms, but some with their fathers. Every child always has particular memories or things they shared with their parents, something they carry as they grow up. As a girl and a daughter, my bond with my father is special.

Sometimes, it’s as simple as fairytales. Just like the story in this book, Ayahku (Bukan) Pembohong. A son named Dam, carries his father advises while growing up, guidance that the father delivered through stories, often came from his own experiences…or so he said. Dam grows up with high moral values, planted by his father, making him his role model with incredible adventures and experiences, but as he grew up, he started to question the truth behind all those stories…

This is a story about love. The love of a father to his son, and the love of a son to his father that will never match his. Reading this will definitely make you miss your father, or probably your mother. It takes you back to your childhood, when you were in bed at night, listening to the stories they told before bed. I guaranteed you will be able to relate to Dam’s exact feeling. However, by the end of the book, a new light might shine upon you, about how deep a parent’s love is.

Resensi dalam Bahasa:

Seberapa dekat kamu dengan ayahmu?

Dalam keluarga-keluarga pada umumnya, sosok Ayah sangat berbeda dengan sosok Ibu. Ayah menanamkan dan mendidik nilai-nilai moral hidup dengan caranya sendiri, dan tidak selalu dengan kedekatan intesif seperti Ibu. Setiap anak pasti memiliki kenangan-kenangan tertentu yang menguatkan ikatan dengan orang tuanya, termasuk dengan Ayah.

Dalam cerita ini, ikatan Ayah dan Anak dibangun oleh cerita-cerita dongeng. Cerita-cerita penuh nilai moral yang didasarkan dari pengalaman dan pengetahuan Sang Ayah, memotivasi Dam, putranya, untuk mencontoh ayahnya dan mengaplikasikan nilai-nilai yang diajarkan ayahnya melalui cerita-cerita tsb.

Namun seiring berjalannya waktu dan Dam tumbuh besar, pertanyaan mulai timbul. Apakah cerita-cerita itu benar adanya? Ataukah hanya sekedar cerita untuk menemani tidur Dam di masa kecil? Apakah Dam bisa menerima kenyataan, ataukah ia membenci ayahnya atas apa yang tidak ia percayai?

Cerita ini mengembalikan ingatanmu ke masa kecil. Mengenang Ayah dan kasih sayangnya, yang mungkin tidak selalu sama dan mudah dimengerti. Sebuah cerita yang dijamin membuatmu ingin berlari pulang dan memeluk Ayah, memutar ulang waktu dan mengucapkan terima kasih atas yang pernah ia berikan.

Pulang – Leila S. Chudori

Rating: 4.8 out of 5

Ayah adalah seorang Ekalaya. Dia ditolak tapi dia akan bertahan meski setiap langkahnya penuh jejak darah dan luka”

pulang-2

Review in English:

Now here is a book of your bucket list. Yes. If you claim yourself to be a booklover, bookworm, or whatever terms you may like, this is a must-to-read. Well, this is an Indonesian novel, nevertheless, you can find the translated one as ‘Home’.

‘Home’ is very deeply rooted on Indonesian darkest history. The background story it takes is so wonderful, it touches many sensitive topics. The novel is plastered with Indonesia’s culture, history, myth, and many unique things about Indonesia. It brings up G30SPKI, the times of massive massacre of people who are accused related in any way with PKI, the communist party, as its background. Since this is a two generation story, it will also take the background of Soeharto’s (2nd President of Indonesia) overthrow in 1998 just as important to the story as G30SPKI. ‘Home’ is also promoting Indonesian culture; it brings Wayang (Indonesian ethnic puppets) and Indonesian food as a major part of the story. You can smell, hear, and see Indonesia so clearly by reading ‘Home’. No doubt of it being awarded of Khatulistiwa Literary.

This is about a man. A man who fascinated by many things; different political views, books and poems, women, foods. A man who set sail, and can never anchored down. A man who faces his fascination to become both curse and blessing to his life. A man whom the wind of life has blown away from his path, to the point of him is being stamped as ‘politic exile’. He was rejected by his own country, forced to live abroad and build a new life.

This is about a young woman. A woman in conflict with her father. Her beloved father, that always supports her, yet becomes bitter of a particular choice of hers. A woman with two histories running on her blood. A Parisian, with one other home country across the world that she has never visited. A woman with one problem upon her life: how to graduate from Sorbonne. One that she doesn’t know, is how that simple things would lead her to a series of outrageous events.

Processed with VSCO with g3 preset

Resensi dalam Bahasa:

Hai!!

Aku punya pertanyaan. Sejauh mana kamu mengenal I.N.D.O.N.E.S.I.A?

Kalau kamu nggak bisa menjawab pertanyaan ini, mungkin kamu bisa mendapatkannya dari buku ini. Buku ‘Pulang’ karya Leila S. Chudori adalah buku yang memenangkan penghargaan Kusala Khatulistiwa Sastra bukan karena keberuntungan, tapi jelas karena kedalaman kualitas dari buku ini. Buku ini ditulis untuk memuaskan rasa haus kamu tentang sejarah Indonesia, terutama masa-masa tergelapnya.

Novel ini mengambil latar beberapa kejadian bersejarah di Indonesia, yaitu peristiwa G30SPKI, Supersemar, Demonstrasi Prancis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan turunnya Presiden Soeharto pada tahun 1998. Melalui buku ini, gambaran kejadian-kejadian bersejarah itu akan terasa lebih nyata dan ‘berdarah’ secara asli. Banyak informasi yang diungkapkan oleh buku ini, kepingan-kepingan fakta yang bercampur dengan fiksi. Selain itu, novel ini memiliki ‘wangi’ Indonesia yang pekat. Budaya Indonesia begitu kental diulas dan menjadi bagian-bagian vital dalam ceritanya, seperti Wayang dan kuliner Indonesia. Novel ini selalu menjadi rekomendasiku pada siapa pun yang suka membaca.

Buku ini menjabarkan tentang seorang laki-laki. Seorang wartawan. Seorang bujangan. Seorang suami. Seorang Ayah. Seorang laki-laki yang tertarik pada politik, dan menghargai semua paham. Seorang laki-laki yang tahu bagaimana menjadi seorang teman yang baik, walau ia tidak yakin bagaimana menjadi pasangan yang baik. Ia terombang ambing dalam hidupnya yang didasarkan filosofi ‘berlayar’, sampai angin kemudian membawanya ke tanah baru. Ditolak tanah airnya, dan mendapat panggilan ‘Tapol’ (Tahanan Politik).

Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan. Seorang anak. Seorang mahasiswa. Seorang perempuan Eropa, namun dengan darah yang tercampur bau kemangi dan kunyit, Indonesia. Seorang mahasiswa tingkat akhir Sorbonne yang berjuang untuk lulus. Seorang putri yang bertengkar dengan ayahnya. Seorang anak mencoba mengerti ayahnya, berdasar pada pemahaman anak kecil yang terbatas. Seorang blasteran, mencoba memetik I.N.D.O.N.E.S.I.A.